Syekh Mukhlisin di Gugat!!!
Karena merasa sering dihina dan dilecehkan dengan sebutan2 yg tak pantas--Sutopo, Moh Stamper, Subandi, Maswir, Robert, dan aku bersepakat mengadukan Syekh Mukhlisin ke polda Lampung.
"Spesifiknya, apa
saja sebutan2 dari Syekh Mukhlisin yg menurut Anda-anda sekalian terasa
menghina dan melecehkan itu?" tanya petugas.
"Kucing kesurupan, Pak," kata Maswir.
"Trenggiling laper," ujar Moh Stamper.
"Beruk tak bertuan," sahut Sutopo.
"Kucing kidal,' tegas Subandi,
"Tikus gak berpendidikan," kataku.
"Sepi yang tak pernah berakhir," pungkas Robert.
"Maksudnya, Mas, sepi yang apa...? petugas itu kelihatan bingung.
"Yang tak berakhir, Pak," ulang Robert.
"Itu termasuk hinaan dan pelecehan menurut Anda?"
"Sangat menghina, Pak," tegas Robert.
"Baiklah... (petugas itu agak bengong sekejap, lalu), pengaduan Anda
sekalian sudah kami catat. Lantas apa yg Anda-anda kehendaki?"
"Usut dan penjarakan, Syekh Mukhlisin. Sebab dia sdh secara gamblang,
terstruktur, dan sistematis menghina dan melecehkan harkat kemanusiaan
kami!" jawab Moh Stamper tegas.
"Oke. Kalau begitu besok kami
akan mempertemukan mas-mas sekalian dengan Syekh Mukhlisin di sini. Kami
akan coba menempuh jalan damai. kalu masih juga tak ada kecocokan
antara kalian, maka secepatnya kami akan melakukan penahanan terhadap
beliau," kata sang petugas.
Keesokan harinya, Syekh Mukhlisin sudah duduk berhadap-hadapan dgn para sahabatnya tersebut di ruang kanit lakalantas.
"Baiklah, saudara Syekh Mukhlisin, Anda kami undang karena ada
pengaduan dari saudara-sudara yg ada di hadapan Anda ini--bahwa Anda
kerap menghina dan melecehkan mereka dengan kata dan kalimat2 yg tak
pantas, tak santun, dan melompati norma-norma ketimuran. Apa benar
begitu, saudara Syekh?" tanya petugas polisi secara cepat, tegas, dan
terpercaya.
Syekh Mukhlisin diam. Matanya terpejam. Sutopo Cs duduk rapi mematung dengan sikap Mahadewa dan Dewi Parvati.
"Sejak kapan kamu sekalian merasa sebagai manusia, hai para trenggiling
dan ular kadut sekalian!!" tiba-tiba Syekh Mukhlisin menggelegar.
Moh Stamper langsung merasa sekujur tubuhnya dipenuhi ulat bulu. " Tuh kan, Pak,...mulai lagi dia kan....." katanya.
"Sekali lagi gua nanya, sejak kapan kalian merasa dan berhak dipanggil
manusia?!! Setiap hari bertindak tidak berdasarkan nalar yg sehat kok
merasa manusia! Setiap hari orientasi hidupmu cuma mikirin kepentingan
perut dan kelamin kok merasa manusia! Setiap hari usahanya cuma
terus-menerus memperkokoh egonya sendiri kok merasa manusia! Kalian
pikir kalu kalian makan, tidur yg nyaman, kelonan sepanjangan dengan
bini, dan petantang-petenteng ke sana kemari memamerkan kekuasaan dan
kekayaan itu sdh membedakan kalian dengan monyet dan tupai? Tidak!!
Karena monyet, tupai, dan musang juga bisa makan, beol, kawin, dan
petantang-petenteng dihadapan bininya dan saingannya!!
Kalau
kalian memang merasa manusia seharusnya kalian juga berusaha membangun
lingkungan sosial dan kultur kalian, karena macan dan beruk tak bisa dan
tak mungkin mampu melakukan itu! Kalau kalian merasa manusia harusnya
kalian kreatif, karena bunglon tak mungkin bisa kreatif! Kalau kalian
merasa sebagai manusia harusnya merasa malu menonjol-nonjolkan
kepentingan perut dan kelamin kalian ke mana-mana! Kalau kalian merasa
sebagai manusia mestinya kalian sadar--bahwa yg membedakan kalian dgn
binatang itu bukan kemampuan beol, kawin, tidur di rumah yg nyaman, dan
memperkokoh kekuasaan kalian, tapi kemampuan kalian untuk berempati,
kreatif, menggunakan nalar dgn logis dan tepat, dan memiliki kasadaran
thp kehidupan batin.
Pernah kalian melakukan tindakan, apa pun
jenis tindakannya, bahkan tindakan yang katanya pendidikan dan tindakan
religius, yang tidak didasari kepentingan perut, kelamin, dan ego
individual kalian? yang nawaitu-nya murni dari kesadaran hati atau
prinsip-prinsip intelektualitas atau kesadaran spirirtualitas?
pernah??!!"
"Kelihatannya belum, Syekh...." jawab Robert pelan.
"Lantas mengapa kalian tersinggung waktu kalian kusebut kucing, trenggiling, beruk, unggas, dan ikan betok hahh!"
"Tapi, Syekh...Anda juga memanggil saya Sepi Yang Tak Pernah...,"
"Alaaaahhh......Dasar petai kalian semua! biji kelahar dan busi karatan
kalian semua! Onderdil motor dan Batu Sungai Sareh kapuran kalian
semua!!" syekh Mukhlisin mengamuk. Ia berubah jadi kukang berbulu merah.
Di ruangan Kanit lakalantas itu jamur-jamur, lumut, dan cacing mulai bermunculan.

