Pilkada Langsung via DPRD
"Kalau dicermati logika para anggota DPR itu sederhana dan baik nawaitunya...," Ujar Moh Stamper berapi-api di depan muka Sutopo, Ki Gemblung, dan Batin Kusdi. "yaitu biar distribusi duit haram yang selama ini tersebar secara merata ke segenap rakyat bisa diberhentikan-- dan untuk itu mereka siap mengorbankan diri--biarlah mereka saja yg menampung dosa yang berasal duit haram dari para kandidat bupati dan walikota, dll, rakyat yg emang sudah susah jangan ikut-ikutan."
Sutopo
manggut-manggut sok ngerti. "Jadi alasan biat irit itu cuma kilah dari
sudut pandang administratif dan akuntansi yg mereka bikin-bikin, padahal
argumen sesungguhnya adalah meletakkan kemaslahatan uhkrawi rakyat di
atas kepentingan perut yang fana," tegasnya.
"Tepat!," kata Moh Stamper. " Para anggota DPR itu, yang sebagian besar
pernah didik langsung oleh UFO, bukan tak mengerti soal esensi atau
substansi atau apalah istilah2 lain ttg bagaimana seharusnya tindak
demokrasi. Mereka punya perspektif yg lebih holistik, yang melewati
dimensi ruang-waktu lahiriah. Soal esensi berdemokrasi--itu kan masih
duniawi! untuk apa mempertahankan sesuatu yang sekiranya hanya akan
menjerumuskan rakyat kecil ke neraka karena ikut makan duit haram. Jadi
sekali lagi, mereka mengikhlaskan diri mereka menjadi martir, yg siap
menampung seluruh duit haram tsb, yg penting rakyat aman.
"Jadi,
para anggota DPR itu sesungguhnya tengah mengambil dan meneladani
perilaku Sufi Rabiah Al Adawiyah--yg merelakan tubuhnya membesar hingga
menutupi keseluruhan neraka agar...."
Plaaakk!!!
belum
lagi Moh Stamper menyelesaikan kalimatnya-- tamparan dari jurus Bego Tak
Kunjung Padam milik Syekh Mukhlisin menghantam pelipis kanannya.
Moh Stamper seketika kesambet. Sutopo, Ki gemblung, dan Batin Kusdi
pura-pura nyuci piring. Sementara Syekh Mukhlisin sibuk nyumpahin Moh
Stamper sambil mengelus-elus gandaran cincin akik darahnya yang penyot.

