Berkunjung ke Rumah Nenek
"Ada 'keadaan-keadaan' di mana kamu melihat pemandangan alam dll yang
kau lalui selama menempuh perjalanan. Juga ada 'stasiun-stasiun' atau
'terminal-terminal' di mana kau berhenti lalu menetap di desa sekitarnya
atau justru kau melanjutkan perjalanan untuk kemudian tiba pada
'stasiun' berikutnya.
kekeliruan lah jika kemudian kau terpukau dan menganggap bahwa pemandangan2 alam atau 'keadaan-keadaan' yang kau
lihat dan rasakan selama perjalanan sebagai sesuatu yang menetap,
kekal, selayaknya sifat 'stasiun-stasiun'. Yang lebih lucu lagi adalah
jika kau kemudian bertengkar dengan sesama pejalan tentang kehebatan
masing-masing 'keadaan pemandangan alam'. Karena bisa saja sesama
pejalan mendapatkan, merasakan, dan mempersepsikan 'keadaan alam' yang
berbeda dalam penglihatannya.
Rute perjalanan yang berbeda, jenis kendaraan yang berbeda, waktu
perjalanan yang berbeda, mood dan level pengetahuan pejalan yang
berbeda, dll, akan mempengaruhi 'apa keadaan pemandangan alam' yang ia
lihat juga perasaannya terhadap 'keadaan' tsb--meskipun 'stasiun' yang
ditujunya sama.
Jadi, selama dalam perjalanan, nikmatilah
'pemandangan alam' yang kita lihat, hayati betul-betul, catat dengan
benar, tapi simpanlah untuk diri sendiri. Jangan buru-buru kau kabarkan
'keadaanmu' kepada orang lain, apalagi kemudian kau paksa orang lain
untuk percaya dan mengalami 'keadaan'-mu. Kau boleh berbagi cerita, tapi
jangan paksa pejalan lain untuk percaya dan meyakini ceritamu. Kau
boleh menganggap 'keadaanmu' sebagai kebenaran, faktual, tapi
sesungguhnya kebenaran 'keadaan' itu 'benar untuk dirimu', belum tentu
untuk orang lain. Kebenaran dan kebaikan dalam 'keadaan' selalu bersifat
parsial dan sementara. Jika kendaraanmu terus melaju, maka kau akan
melihat lagi kebenaran2 pada 'keadaan2' yang baru. Saat kau 'mengekalkan
dan menguniversalkan' kebenaran 'keadaan-mu' pada pejalan lain--itu lah
tanda bahwa kau mulai tertipu.
Hormati pejalan lain yang mungkin
mengalami 'keadaan alam' yang berbeda. Lalu, jangan keblinger
menganggap 'pemandangan' tersebut sebagai 'stasiun' di Desa Nenek. Sebab
kalau kamu memang sudah sampai ke Rumah Nenek, maka kamu gak akan
bingung lagi, gak lompat dan ganti rute serta kendaraan lagi, gak
kesulitan lagi mengidentifikasi siapa dirimu, apa bakat dan peranmu. Di
Rumah Nenek kamu akan produktif; memberi makan lele, nanem cabe,
memperbaiki pagar, ngasah akik, nyebur dan berenang di kali dan tentu
saja--menikmati makan siang atau malam lezat khas kampung yang dibuat
Nenek. "

