Antara Guru dan Murid
Orang yang memberikan hatinya cenderung untuk memberikan pula kepalanya, Ujar Syekh Mukhlisin. Karena itu menjadi penting sekali bagi guru untuk terlebih dahulu mendapatkan hati para muridnya.
Murid
yang sudah dapat memberikan hati kepada guru berkemungkinan besar dapat
menyerap pelajaran2 dengan lebih cepat dan lebih baik. Mengapa? karena
pada diri orang yang 'percaya', 'yang hormat'-- informasi dan data2 yang
diucapkan guru akan lebih 'berbunyi' baginya. Murid 'yang percaya'
akan menyerap data tanpa atau dengan meminimalisasi negasi (dalam
pengertian yg negatif). Ia akan berlaku bagai gelas kosong yg bening,
yang sedikit saja data/informasi masuk ke dalamnya akan memberi warna
dan pengaruh signifikan begi perkembangan dirinya.
Bahkan ada ujar-ujar dalam tradisi sufi, bahwa berkhidmat kepada guru
lebih penting ketimbang menuntut ilmu. Ini tidak berarti bahwa belajar
menjadi tidak penting, tapi menegaskan bahwa berkhidmat kepada guru akan
memberikan dampak yg sangat signifikan bagi tujuan menuntut
ilmu/belajar itu sendiri, yaitu 'Keberkahan ilmu' dan 'manfaat ilmu'.
Sebab apalah artinya menuntut ilmu jika murid tak mendapat 'berkah dan
manfaat' karenanya.
namun memberikan hati bukan lah soal mudah.
Hati hanya bisa didekati dan dikencani dengan hati. Berarti faktor 'niat
yang bersih' dan 'ketulusan' mengajar dari guru amat berperan penting
di sini. Ia adalah syarat utama. Fondasi bagi hubungan percintaan yang
mesra antara guru dan murid. Selanjutnya, tentu saja faktor track
record, pengalaman praktikal, keluasan wawasan dan pengetahuan, dan
penguasaan keterampilan adalah syarat-syarat yg rasa2nya tak bisa
ditawar jika guru ingin agar murid memberikan hati kepadanya.

