KESEPIAN, KESUNYIAN, dan KEHENINGAN

Wednesday, June 15, 2016 0 Comments A+ a-



"KESEPIAN, KESUNYIAN, dan KEHENINGAN, adalah tiga keadaan yg mirirp2, ahwal, yg pernah dan kerap kita alami, oleh karena itu aku akan membicarakannya hari ini," kataku pada teman2 di kontrakan pada acara diskusi Tasawwuf Kompentorer yg selalu rutin dilakukan setiap malam minggu lepas jam 12 malam sampai masuk subuh. Seperti biasa--Syekh Mukhlisin menjadi moderator pada setiap diskusi.
"KESEPIAN--ini banyak terjadi pada manusia modern, buah dari ego yg terluka. Megapa byk menimpa manusia modern, w bil khusus org kota dan terpelajar--karena mereka menisbahkan bangunan atau konstruksi psikologis dari eksistensinya kepada variabel2 eksternal--misalnya pada perhatian dan support org lain; bisa pacar, suami/istri, teman, wartawan (kalau dia selebritis), partai (kalau dia politisi), bos atau atasan (kalau dia karyawan), pada politisi dan birokrat (kalau dia pengusaha atau rekanan), dan lain-lain...dan lain-lain....Pokoknya individu jenis ini berpegangan pada adagium 'Kamu Menganggapku, maka Aku Ada'.
Karena itu, jika orang yg amat ia butuhkan anggapan2nya ttg dirinya tsb tiba-tiba memalingkan/mengalihkan perhatiannya kepada individu atau pihak yg lain, maka secara otomatis kita akan mengalami 'kesepian', kita merasa 'tak ada', tidak eksis, dan merasa hidup dlm kehampaan dan kesia-siaan. Pada ahwal yg semacam ini, keadaan 'kesepian' lebih dominan mengandung konotasi negatif dalam ruang psikologis manusia. Kata lainnya, 'kesepian' adalah semacam lubang hitam atau black hole dalam ego individu--yg kerjaannya mau menghisap secara mati-matian energi individu lain yg ada di sekitarnya."
Subandi, Sepiut, Gurjep, Moh Stamper, dll manggut-manggut.
Mata mereka melotot mencerap pengetahuan dariku.
Syekh Mukhlisin cengar-cengir penuh kebijaksanaan.
"Yg kedua, 'KESUNYIAN'. Kesunyian merupakan keadaan atau 'Hal' di mana lubang hitam pada ego, yg berwujud pada rasa 'kesepian' td telah tertutup. pada fase ini kita telah merasa 'cukup' dgn diri kita sendiri. Ada atau tak ada orang yg 'menganggap', kita tetap eksis, tetap muncul. Individu yg berada pada maqom ini biasanya sdh enak diajak ngobrol, mukanya nggak lagi semrawut, rahangnya rileks, ketawanya mulai lepas, nggak cuma asyik ngomongin diri sendiri, tapi sdh mulai mau menanyakan kabar org lain juga, kaki dan hatinya nggak lagi males silaturahmi, nggak cari perhatian terus, perhatiannya gk lagi terbatas pada diri atau kelompoknya sendiri, namun mulai melebar ke kelompok yg lain, dan efek2 lainnya yg bisa kita rasakan.
Namun, meski mereka mulai merasa 'cukup' dan nyaman dgn diri mereka sendiri, karena perhatian dan konsentrasi mereka mulai melebar dan meluas ke luar dari diri dan kelompokny, maka 'rasa sepi ekologis' mulai merayap di dada mereka. Yg dimaksud rasa sepi ekologis adalah keadaan 'kesepian' yg tidak lagi terpusat pd ego-nya sendiri, sebentuk sepi yg tak lagi individualistis. Mereka merasakan 'kesepian demi kepentingan orang banyak'.
Jadi, mereka2 yg merasakan kesunyian juga akan berteriak dan mencari perhatian--tapi itu semua bukan untuk kepentingannya pribadi, tapi untuk kepentingan yg lebih luas. Mereka mengggugat, menggugat sistem ekologis ekonomi yg tidak adil! Mereka bertanya, namun menanyakan ruang kesehatan ekologis kultural yg terpinggirkan oleh para birokrat dan koruptor di kantor-kantor pemerintahan! Mereka menangis, tapi bukan menangis karena ditinggal pacar atau karena karier nggak nanjak2, tapi menangisi sisitem pendidikan politik yg ngakal-ngakali rakyat kecil! Mereka curhat dan terheran2, mengapa pohon2 di tebang, sehingga beruk, ular, dan musang lari dari hutan dan masuk ke gedung2 wakil rakyat dan gedung pemerintahan! dan lain-lain...dan lain-lain...demikianlah hakikat dari kata 'kesunyian'"
Sepiut, Subandi, Gurjep, Moh Stamper, dll menarik nafas, dalam dan panjang.
"Keadaan yg ketiga adalah KEHENINGAN. Keheningan adalah keadaan di mana tiada lagi tempat bagi kekecewaan, baik individual maupun komunal. Mereka-mereka yg sedang merasakan 'hening' berarti sudah memahami--bahwa semuanya adalah game, permainan yg harus dijalankan dgn serius, penuh kalkulasi dan strategi pemenangan bagi kepentingan individu dan org banyak, namun harus dijalani dgn riang dan rileks. Keheningan adalah keadaan batin yang non-ngototan. Keheningan adalah situasi saat jagad mikro yg ada pada dirimu dan komunitasmu bersatu dgn jagad makro; orang banyak, lingkungan alam-benda di sekitar, dan alam semesta. Pada level ini, si individu yg mengalaminya tak lagi berusaha mencari perhatian, ia tawakkal ilallah, berserah pada arus hidup, pada prana yg memancar di dalam dan diluar dirinya. Hanya org yg telah berserah atau tawakkal lah yg bisa mengalami 'Hening'. Ia umpama air, yg selalu menyesuaikan bentuknya sesuai dgn konteks 'wadahnya'--namun secara prinsipil dan zat--ia tetap air. Ia umpama batu, yg sangat keras, namun menggelinding secara asyik. Rock namun Rolling. Jika kamu bisa 'Hening' barulah kamu bisa bertindak Rock'n Roll secara sejati!"
Kami semua menarik nafas, manggut-manggut, menyerap ilmu, pemahaman, dan prana.
"Namun, coba kalian lihat Syekh Mukhlisin...ia bahkan telah melampaui ketiga keadaan tersebut..." ujarku.
Kompak kami menoleh ke arah Syekh Mukhlisin yg duduk diam dan khusuk di pojokan.
"Wah, Syekh begitu khusuk pemahamannya," ujar Sepiut.
"Coba lihat! ada pendar sinar kebiru-biruan di sekujur tubuhnya!" kata Subandi.
"Ssssttt...hawa dingin mengepung kita...mungkin dari meditasinya..." Ujar Gurjep.
"Lihatlah!," kataku. "Maqom Syekh Mukhlisin bahkan telah melewati tiga keadaan yg kusebutkan tadi! Ia telah melampauinya. Ia tidak lagi mengalami kesepian, kesunyian, bahkan keheningan!" ujarku.
"Keadaan apa yg sekarang sedang ia alami Bung??!!" ujar kami serentak ingin tahu.
"KETIDURAN" ujarku.
Ringkik ngorok Syekh Mukhlisin menyebar ke tujuh penjuru. "Khusuk apaan!!" kata Moh Stamper misah-misuh.