Kesadaran Batang Kates

Friday, May 27, 2016 0 Comments A+ a-



sambil mengelus-elus batang kates yg ada di halaman depan kontrakannya, Syekh Mukhlisin berbisik, "jangan menyalahkan...jangan pernah menyalahkan...setiap individu berprilaku, bertindak, bahkan berpikir selalu berdasarkan level jiwanya masing-masing, berdasarkan maqomnya masing-masing---dan level ini jangan disalahpahami sekedar tingkatan kognisi atau intelektualitas, jenjang akademik apalagi umur, tapi jumlah keseluruhan dari unsur-unsur yang jadi bahan baku agar ia jd manusia dan bahan baku yg kelak ia capai saat ia mencapai kesempurnaan kemanusiaannya--mulai dari level moral-nya, emosinya, aspek fisikalnya, bawah sadar personal dan kolektifnya, sampe pengenalan dan pengakuan akan shadow-nya. Karena itulah kekasih kita semua, penghulu sekaligus muara bagi segenap keharuman, Muhammad SAW, hanya berucap " mereka tidak tahu...mereka tidak tahu..." soal kekejian yang dilakukan seseorang atau kaum kepada diri dan misinya yg mulia. Ia tidak menyalahkan.

Yang harus engkau salahkan, Mukhlisin, bukan orang lain, tapi dirimu sendiri, mengapa kau tidak tahu pada posisi atau level apa saat ini dirimu berdiri. Yang harus kau salahkan, Mukhlisin, adalah ketidak-tahuanmu untuk selalu mewaspadai asal gerak pikiran dan desir hatimu sendiri, dari bagian dirimu yg mana mereka muncul, hadir. Yang harus kamu salahkan, Mukhlisin, adalah jika kamu merasa bahwa level jiwamu sudah pendeta padahal sesugguhnya masih di level sayur bayam atau, paling mentok ikan bawal. Yang harus kau salahkan adalah jika kau berprilaku bagai masih berada di level emping melinjo atau kuda nil padahal sesungguhnya engkau sdh jadi manusia. Paham kau, Mukhlisin...?"

Moh Stamper dan Mat Frengki yang melihat kelakuan Syekh Mukhlisin dari balik gordin tidak lagi merasa heran. sebab mereka tahu, pohon kates di halaman itu adalah reinkarnasi dari pacar Syekh Mukhlisin di kehidupan sebelumnya, beratus-ratus tahun yg lalu.