Tafsir yg menurut prasangka

Monday, May 27, 2013 0 Comments A+ a-

Bakda salat dhuhur td kuperhatikan Syekh Mukhlisin banyak diamnya. Biasanya, seusai mewirid, dia pasti cengar-cengir sok bahagia, duduk anteng di halaman belakang, kemudian mengeluarkan sebatang dji sam soe, lalu menghisapnya dgn khusuk dan dalam bak juragan jengkol habis dapet setoran. Tp, tadi, ia tak melakukan ritual rutinnya itu. Aku sich diam saja tak berani menegur. Ada sekitar 5 menit kami dikepung keheningan, tiba-tiba, barulah ia bicara--

"kamu itu tentu sadar sesadar-sadarnya kan, bahwa tentulah tak semua buku sudah kau baca, tak semua film pernah kau tonton, tak semua pengalaman fisik pernah kau alami, tak semua bentuk perasaan pernah kau rasakan; patah hati, ditinggal istri atau kekasih, dicaci-maki penagih hutang, ditolak perempuan berulang-ulang, kecewa dgn masa lalu dan masa depan, diejek karena dicopot jabatan, dikhianati teman, dsb. Iya kan? demikian juga dgn rasa ragam bahagia...apa smua bentuk kebahagiaan pernah kau mengalaminya? kan belum tentu...

Kamu tentu waras sewaras-warasnya, bahwa tentulah tak semua pengalaman spiritual pernah kau menjalani dan memahaminya kan? apa memang benar2 kau baca dan paham aturan fiqh 4 imam mahzab dalam ahlul sunnah? apa memang pernah kau baca dan coba memahami aturan fiqh dan teologi kaum syiah? apa memang semua bentuk wirid, aurad, hizb2, dan doa2 dari para penghulu macam2 tarekat; Syadziliayah, Qadiriah, sammaniyah, Rifaiyah, Tijaniah, Rock 'n Rolliyah, dll pernah kau amalkan dan kau mendapat pengalaman batin, buah dari pengamalan itu? Apa memang kau hafal sekian ribu ayat yg ada di alquran berikut macam tafsirnya? kan belum tentu! Apa memang sdh kau baca tafsirnya Hamka, tafsirnya Sayid Qutb, Tafsirnya Ibn Katsir, Tafsirnya Pak Shihab, Tafsirnya Pak Maragghi, dll sehingga kau bisa membanding-tafsirkan makna suatu ayat dgn bijak dan dewasa? kan belum tentu! Apa kau pernah mencoba, walaupun sebentar dan penuh rasa deg-degan mencoba berdoa di lengang surau, gereja, vihara, atau pura? kan blm tentu pernah...

Kawan, bahkan untuk sebilah kalimat yg berbunyi, "Aku mencintaimu" pun kita gak boleh buru-buru memberi tafsir yg menurut prasangka kita adalah tafsir yg mutlak kebenarannya! Kalimat yg jutaan kali pernah diucapkan manusia di muka bumi itu tetap harus kita tafisrkan dgn terlebih dahulu melihat; -- siapa yg mengucapkannya? apa latar belakang ideologis, strata pendidikan, agama, dan background ekonomi si pengucapnya? kemudian kita harus tahu--pada konteks apa kalimat itu muncul? Bagaimana kondisi sosiologis dan politis masyarakat sehingga kalimat itu muncul pada ruang tertentu dan tidak di ruang yg lain? pada siapa kalimat itu diucapkan--pacarnyakah, istri atau suaminyakah, anaknyakah, teman tapi mesranyakah, selingkuhannyakah, tuhankah, atau trenggiling kah,? Kemudian, agar menjadi lebih sahih dan komprehensif, tentulah kita harus mencari rujukan-rujukan historis dan filosofis yg mendasari ucapan tersebut--secara fenomenologiskah, secara eksistensialiskah, heurmeneutika kah dll. Tentulah ucapan yg sama yg keluar dari aktivis feminisme akan berbeda sekali maknanya dgn ucapan yg keluar dari mulut pengikut aliran Ahmadiyah, pragmatisme, apalagi pengikut filsafat atomisme logisnya Moore dan Rusell atau Wittgenstein...Lalu bagaimana blocking dan bentuk adegan ketika ia diucapkan--menggunakan realisme dan kewajaran ala-Stanislavski kah? atau menggunakan efek pengasingannya-Brecht? Apakah ucapan itu diucapkan dgn kemurnian impuls si pengucapnya seperti aktornya Grotowski? atau malah memakai pola statis-presisif ala Robert Wilson?

lalu, agar menjadi lebih komplit, tentulah kita juga harus bertanya dan mencari, apakah kalimat "Aku Mencintaimu" itu mempunyai jaringan intertekstual dgn kalimat-kalimat lain yg pernah diucapkan oleh sepasang kekasih dlm novel atau puisi2 tertentu, misalnya. Kita juga harus melacak Hipogram dari kalimat itu; karena tentulah kalimat itu tidak orisinal dan baru pertama kali diucapkan. Kita juga harus melacak makna semiotik-nya, skemata-nya, surface structur dan deep structure-nya, akibat ekonomi dan finansialnya...Kita jg harus melacak--keadaan suasana hati org yg mengucapkan dan org yg mendengarnya? Apakah ucapan itu muncul dari Id-nya?, Ego-nya?, atu sekedar menuruti rutinitas Superego-nya? Atau jgn2 kalimat itu memang sdh ada sebelum sipengucap sendiri mengucapkannya; kalimat yg memang sudah tersimpan dalam arketipe, akhasic, dan lauh-al mahfudz setiap peradaban di semesta?...

Kawan, untuk menafsir secara lengkap satu kalimat itu saja, barangkali kita memerlukan ribuan halaman untuk menganalisanya, apalagi untuk menafsir ayat-ayat tuhan yg tersimpan dalam kitab-kitab-Nya dan tersebar di setiap ihwal di alam semesta ini! itu baru soal agama...belum lagi soal estetika, puisi, bentuk teater, ekonomi makro-mikro, hubungan politik, epistemologi dan aksiologi ilmu, trend pemasaran, jenis-jenis jiwa, model kekuasaan, akar dan perubahan kultural, dampak sosiologis, sistem pembelajaran, dan lain sebagainya...

Jadi, kawanku, kamu gak usah selalu ngotot lah bahwa pendapatmu yg paling benar. Kalaupun benar--itu harus disadari sebagai kebenaran yg terikat oleh latar konteks dan waktu tertentu, tidak menyeluruh dan selamanya. Kamu memang harus belajar 'benar' dan mengatakan 'yg benar', tp kamu jgn sekali-kali meniadakan 'kebenaran-kebenaran' milik yg lain yg juga mungkin sama benarnya. Kebenaranmu dan aku adalah kebenaran yg parsial! Kebenaran yg tak mungkin mampu menjangkau dan merengkuh keluasan seluruh ilmu pengetahuan. Jd, jangan ngotot, jgn membakar, jangan memaki, jgn sok sensitif dgn menggunakan isu-isu agama dan sara ...rileeeks...ok! Paham kan?

"Tapi Syekh......" Kataku coba me....

"Kampang Kamu!!"

Aku langsung ngacir.