Tafsir yg menurut prasangka
Bakda
salat dhuhur td kuperhatikan Syekh Mukhlisin banyak diamnya. Biasanya,
seusai mewirid, dia pasti cengar-cengir sok bahagia, duduk anteng di
halaman belakang, kemudian mengeluarkan sebatang dji sam soe, lalu
menghisapnya dgn khusuk dan dalam bak juragan jengkol habis dapet
setoran. Tp, tadi, ia tak melakukan ritual rutinnya itu. Aku sich diam
saja tak berani menegur. Ada sekitar 5 menit kami dikepung keheningan,
tiba-tiba, barulah ia bicara--
"kamu itu tentu sadar
sesadar-sadarnya kan, bahwa tentulah tak semua buku sudah kau baca, tak
semua film pernah kau tonton, tak semua pengalaman fisik pernah kau
alami, tak semua bentuk perasaan pernah kau rasakan; patah hati,
ditinggal istri atau kekasih, dicaci-maki penagih hutang, ditolak
perempuan berulang-ulang, kecewa dgn masa lalu dan masa depan, diejek
karena dicopot jabatan, dikhianati teman, dsb. Iya kan? demikian juga
dgn rasa ragam bahagia...apa smua bentuk kebahagiaan pernah kau
mengalaminya? kan belum tentu...
Kamu tentu waras
sewaras-warasnya, bahwa tentulah tak semua pengalaman spiritual pernah
kau menjalani dan memahaminya kan? apa memang benar2 kau baca dan paham
aturan fiqh 4 imam mahzab dalam ahlul sunnah? apa memang pernah kau baca
dan coba memahami aturan fiqh dan teologi kaum syiah? apa memang semua
bentuk wirid, aurad, hizb2, dan doa2 dari para penghulu macam2 tarekat;
Syadziliayah, Qadiriah, sammaniyah, Rifaiyah, Tijaniah, Rock 'n
Rolliyah, dll pernah kau amalkan dan kau mendapat pengalaman batin, buah
dari pengamalan itu? Apa memang kau hafal sekian ribu ayat yg ada di
alquran berikut macam tafsirnya? kan belum tentu! Apa memang sdh kau
baca tafsirnya Hamka, tafsirnya Sayid Qutb, Tafsirnya Ibn Katsir,
Tafsirnya Pak Shihab, Tafsirnya Pak Maragghi, dll sehingga kau bisa
membanding-tafsirkan makna suatu ayat dgn bijak dan dewasa? kan belum
tentu! Apa kau pernah mencoba, walaupun sebentar dan penuh rasa
deg-degan mencoba berdoa di lengang surau, gereja, vihara, atau pura?
kan blm tentu pernah...
Kawan, bahkan untuk sebilah kalimat yg
berbunyi, "Aku mencintaimu" pun kita gak boleh buru-buru memberi tafsir
yg menurut prasangka kita adalah tafsir yg mutlak kebenarannya! Kalimat
yg jutaan kali pernah diucapkan manusia di muka bumi itu tetap harus
kita tafisrkan dgn terlebih dahulu melihat; -- siapa yg mengucapkannya?
apa latar belakang ideologis, strata pendidikan, agama, dan background
ekonomi si pengucapnya? kemudian kita harus tahu--pada konteks apa
kalimat itu muncul? Bagaimana kondisi sosiologis dan politis masyarakat
sehingga kalimat itu muncul pada ruang tertentu dan tidak di ruang yg
lain? pada siapa kalimat itu diucapkan--pacarnyakah, istri atau
suaminyakah, anaknyakah, teman tapi mesranyakah, selingkuhannyakah,
tuhankah, atau trenggiling kah,? Kemudian, agar menjadi lebih sahih dan
komprehensif, tentulah kita harus mencari rujukan-rujukan historis dan
filosofis yg mendasari ucapan tersebut--secara fenomenologiskah, secara
eksistensialiskah, heurmeneutika kah dll. Tentulah ucapan yg sama yg
keluar dari aktivis feminisme akan berbeda sekali maknanya dgn ucapan yg
keluar dari mulut pengikut aliran Ahmadiyah, pragmatisme, apalagi
pengikut filsafat atomisme logisnya Moore dan Rusell atau
Wittgenstein...Lalu bagaimana blocking dan bentuk adegan ketika ia
diucapkan--menggunakan realisme dan kewajaran ala-Stanislavski kah? atau
menggunakan efek pengasingannya-Brecht? Apakah ucapan itu diucapkan dgn
kemurnian impuls si pengucapnya seperti aktornya Grotowski? atau malah
memakai pola statis-presisif ala Robert Wilson?
lalu, agar
menjadi lebih komplit, tentulah kita juga harus bertanya dan mencari,
apakah kalimat "Aku Mencintaimu" itu mempunyai jaringan intertekstual
dgn kalimat-kalimat lain yg pernah diucapkan oleh sepasang kekasih dlm
novel atau puisi2 tertentu, misalnya. Kita juga harus melacak Hipogram
dari kalimat itu; karena tentulah kalimat itu tidak orisinal dan baru
pertama kali diucapkan. Kita juga harus melacak makna semiotik-nya,
skemata-nya, surface structur dan deep structure-nya, akibat ekonomi dan
finansialnya...Kita jg harus melacak--keadaan suasana hati org yg
mengucapkan dan org yg mendengarnya? Apakah ucapan itu muncul dari
Id-nya?, Ego-nya?, atu sekedar menuruti rutinitas Superego-nya? Atau
jgn2 kalimat itu memang sdh ada sebelum sipengucap sendiri
mengucapkannya; kalimat yg memang sudah tersimpan dalam arketipe,
akhasic, dan lauh-al mahfudz setiap peradaban di semesta?...
Kawan, untuk menafsir secara lengkap satu kalimat itu saja, barangkali
kita memerlukan ribuan halaman untuk menganalisanya, apalagi untuk
menafsir ayat-ayat tuhan yg tersimpan dalam kitab-kitab-Nya dan tersebar
di setiap ihwal di alam semesta ini! itu baru soal agama...belum lagi
soal estetika, puisi, bentuk teater, ekonomi makro-mikro, hubungan
politik, epistemologi dan aksiologi ilmu, trend pemasaran, jenis-jenis
jiwa, model kekuasaan, akar dan perubahan kultural, dampak sosiologis,
sistem pembelajaran, dan lain sebagainya...
Jadi, kawanku, kamu
gak usah selalu ngotot lah bahwa pendapatmu yg paling benar. Kalaupun
benar--itu harus disadari sebagai kebenaran yg terikat oleh latar
konteks dan waktu tertentu, tidak menyeluruh dan selamanya. Kamu memang
harus belajar 'benar' dan mengatakan 'yg benar', tp kamu jgn sekali-kali
meniadakan 'kebenaran-kebenaran' milik yg lain yg juga mungkin sama
benarnya. Kebenaranmu dan aku adalah kebenaran yg parsial! Kebenaran yg
tak mungkin mampu menjangkau dan merengkuh keluasan seluruh ilmu
pengetahuan. Jd, jangan ngotot, jgn membakar, jangan memaki, jgn sok
sensitif dgn menggunakan isu-isu agama dan sara ...rileeeks...ok! Paham
kan?
"Tapi Syekh......" Kataku coba me....
"Kampang Kamu!!"
Aku langsung ngacir.
