Topeng
Entah kesambet apa, td malam tiba-tiba Syekh Mukhlisin maeraupkan
tangannya yg kasar ke wajahku; ditarik-tariknya dgn kuat pipi, hidung,
bulu mata, kuping, dan bibir di wajahku yg emang amat sangat sederhana.
"Lepaskan! lepaskan!," hardiknya.
"Aguuyy...! apa yg harus dilepas, Syekh!?" kataku kesakitan.
"Itu...topeng di mukamu!! topeng hakim, topeng guru, topeng penyair,
topeng walikota, topeng aktivis, topeng rektor, topeng kyai, topeng
wartawan, topeng motivator, topeng spiritualis,
topeng dosen, topeng cerpenis, topeng kontraktor, topeng sok polos dan
sok lugu, topeng sok bijak sok paling ngerti org lain, topeng mahasiswa,
topeng dakwah, topeng sok rebel, topeng sok tahu, topeng badak topeng
luwak topeng monyet! lepasin!! itu bukan kamu!!" kata Syekh Mukhlisin
histeris.
"Tapi ini asli, guru!"
"Palsu...! itu bukan kamu. itu peran yg kebetulan dan kadang-kadang aja
kamu perlukan untuk kau pakai dan mainkan. Jgn ngotot kalau itu asli
dan harus kau pertahankan 24 jam sehari...terus-menerus...sampai kau
mati! nti yg masuk sorga topengmu dan bukan kamu, baru nyesel kamu! ujar
Syekh lebih histeris lagi.
"Terus yg asli yg mana dong, Bos!!!?" tantangku mulai marah, kerna mukaku terus aja ditarik-tariknya.
"Yang ini...Plakk..!!" katanya sambil melayangkan tapak tangannya keras-keras ke muka kampunganku..
Tak sampai 2 detik, aku sepertinya tak ingat apa-apa...
Tak sampai 1 detik, topeng di wajahku sepertinya sempat terlepas entah kemana...
Di waktu yg tak sampai 1 detik itu...aku merasa begitu bahagia.
Entah mengapa.
