Perwakilan dan atau Perantara atau Memperantarai

Sunday, September 28, 2014 0 Comments A+ a-



"Proses perwakilan dan atau Perantara atau Memperantarai adalah kodrat alam," ujar Moh Stamper kepada kami saat diskusi tentang 'Menelusuri Jejak Monyet pada Pemikiran Politik para Politisi Indonesia Mutakhir' di kontrakan dini hari tadi.

Moh Stamper meneruskan," dokter menyembuhkan penyakit kita dengan cara mewakilkannya melalui obat atau alat2 operasi dan kita biasanya membayar upah dokter dengan mewakilkannya kepada kasir. kita bisa nangkep ikan dengan mewakilkan upaya kita melalui kail dan umpan...gak bisa kita langsung nyelem ke sungai or laut terus nagkep tuh ikan pake tangan. kita juga gak bisa secara langsung mengenyangkan perut kita, tapi proses pengenyangan itu diperantarai oleh nasi dan supermie, misalnya. kita juga menjadi pinter bukan karena hubungan langsung antara kita dengan ilmu, tapi ilmu tersebut mewakilkan dirinya melalui para guru atau dosen. Pemerintah membangun ninfrastruktur negara ini bukankah dgn cara mewakilkan proses pembangunannya melalui para kontraktor. Dan kontraktor juga mendapat job tersebut bukankah terlebih dahulu mewakilkan kepentingannya dengan sejumlah duit setoran?

lalu hubungan sehari-hari di antara kita--bukankah kegalauan emosimu, pemikiranmu, rasa kangen dan bencimu, dll--kamu ekspresikan melalui wakil yg kamu sebut bahasa? bukankah bahasa dan kata-kata menjadi perantara antara emosimu dgn pihak lain. Terus kalu kamu jatuh cinta, bukankah kamu kerap mewakilkan perasaan rindumu pada sang kekasih pada seuntai puisi atau setangkai mawar yg kau persembahkan kepadanya? dan msih banyak lagi hal-ihwal yg berkenaan dgn proses perwakilan ini, saudara2, kalu tak bisa dibilang ia terjadi pada setiap hal....Bahkan, dan ini sangat penting dipahami, tuhan yg maha indah juga menjadikan Jibril as sebagai perantara yg memanggul kalamNya untuk diberikan kepada para nabi terpilih. Jadi, sekali lagi, soal proses perwakilan, penitipan, perantara dan memperantarai itu adalah sebuah hukum yg tak tertolak--bahkan untuk semua hal, kawan2ku sekalian!"

para mahasiswa dan pengangguran takzim mendengar penuturan Moh Stamper yg berapi-api. Ada yg manggut-manggut setuju. Sebagian besar tertidur.

Moh Stamper melanjutkan, " karena itu, saya minta kepada sohib sekalian, tak usah terlalu serius lah menanggapi soal isu mewakilkan, perwakilan, perantara, memperantarai dan lain sebagainya itu yg sedang hot akhir-akhir ini. Rileeeks bro...jgn terlalu didramatisir."

"dan sebagai kata penutup, saya meminta kepada senior saya, Syekh Mukhlisin, untuk memberi semacam ujaran pamungkas guna menutup diskusi ini," pinta Moh Stamper dgn santun pada Syekh Mukhlisin.

Beliau diam dahulu. manggut2 sejenak. ngedehem-dehem sejenak.
hening sejenak.

lalu berujar, "Secara mendasar saya sepakat dgn semua yg diutarakan Stamper, apalagi dia menguatkan argumennya dgn sejumlah contoh yg sulit sekali dibantah. Karena itu, sebagai implikasi langsung dari persetujuan saya terhadap pendapat Stamper: jika kelak maut akan menjemput saya, maka saya akan meminta Stamper mewakili saya menjalani proses kematian tersebut. Demikian sambutan dan keputusan saya. Terima kasih."

Suatu hari …

Friday, September 19, 2014 0 Comments A+ a-


“Profesi Guru dan juga Dosen itu mempunyai strata ruhaniyah yg paling tinggi ketimbang profesi-profesi lainnya yg ada dalam pergaulan sosial-kemasyarakatan!” ujar Syekh Mukhlisin berapi-api dalam sebuah seminar pendidikan yg bertajuk ‘Mengangkat Harkat Guru’ yg diadakan Persatuan Guru yang Terpinggirkan Indonesia (PGTI) Kota Kaasiu, awal tahun 2013 lalu.

“Jadi, harkat guru gak perlu diangkat-angkat, karena memang secara esensial, maqom guru dan dosen itu memang sudah tinggi. Dalam tradisi Hindu, guru itu berada pada posisi kasta Brahmana; tak ubahnya dgn para Pandita, Kiai, Mpu, Beghawan,–yang amat penting posisi dan tugasnya– di atas para Ksatria atau aparatur pemerintah, penegak hukum, politisi, dsb, Waisya atau para pengusaha, pedagang, penyelenggara ekonomi, bisnis hiburan, kontraktor, dsb, dan sudra atau para pekerja lapangan, buruh, tani, nelayan, dan kaum proletar/marhaen sekalian.”

Para guru peserta seminar mengangguk-anggukkan kepala.

“Tugas utama guru atau kaum brahmana adalah menjadi hati nurani masyarakat, menjadi penasihat sekaligus jembatan yang menghubungkan kepentingan bumi ke langit, dan sebaliknya. Tugas para guru adalah penyeimbang–antara kepentingan-kepentingan badaniah yang diwakili oleh tiga chakra dasar dalam sistem kesadaran manusia dengan kepentingan-kepentingan emosional individual yang diwakili oleh chakra dada dan tenggorokan. Guru sesungguhnya minimal berada pada maqom chakra Ajna, nalar yang jernih, artikulatif, dan visioner–sebelum kesadarannya, pada waktunya, nangkring secara permanen di chakra mahkota–ego individual yg selalu terhubung dan melebur dengan ego universal. Pada titik ini, apa pun tingkah dan gerak hati sang guru di bumi, ia akan selalu terbimbing oleh langit.”

“Para guru adalah mursyid, penunjuk dan pembimbing jalan bagi para murid agar mampu meloloskan diri dari jebakan level kejiwaan materi, nabati, dan hewani ke level jiwa yang manusiawi sampai ke yang Ilahi. guru lah yang menempa, mencuci, dan menyepuh jiwa para murid, agar para murid tahu dan sampai pada jiwanya yang sejati!”

Para guru peserta seminar munyes-munyes tersenyum bangga.

“Jadi, kalau sekarang para guru dan dosen yang konsentrasi hati dan pikirannya lebih banyak nyerewetin duit les, memperkuat eksistensi kariernya ketimbang ilmunya, ngotot minta tambah jatah anggaran pendidikan tapi kemudian dikorupsi, sibuk mematut-matut imej ketimbang menulis dan meneliti, plus males baca, males beli buku, dan ogah ikut pelatihan-pelatihan untuk nambah kapasitas kalau nggak gratis dan dikasih ongkos transport–berarti ia telah secara langsung terjun bebas menurunkan maqomnya sendiri, harkatnya sendiri, ke level yang lebih rendah!”

Para guru peserta seminar bertepuk-tangan.

“Ini bukan berarti para guru gak boleh punya hidup layak, punya mobil bagus, punya duit, dan lain sebagainya, tidak! ini hanya berarti–agar engkau, wahai para guru, jangan sekali-kali mengkonsentrasikan peranmu untuk sesuatu yg sesungguhnya tak sesuai dgn substansi peranmu! kalau para pedagang, sales, apalagi para buruh dan nelayan sibuk mikirin duit untuk hidup layak dan mencari keuntungan–itu memang sudah sewajarnya. Karena memang level, peran, dan aktingnya memang harus begitu. Tp, kalau kalian para guru berakting seperti sales, buruh, politisi, dan pedagang…wah nggak bener itu! itu berarti Anda keblinger!”

Para guru peserta seminar tambah riuh tepuk-tangannya.

“Jadi, kalau Anda tidak sanggup memikul amanah seperti yang selayaknya disunggi oleh peran guru, ya…mengundurkan diri aja. kalau Anda nggak mampu untuk mengubah mental state Anda dari mental sales, broker, atau pemborong proyek itu, ya tahu diri aja lah…mundur, kemudian bertaubat. Demikianlah!!” ujar Syekh Mukhlisin dengan semangat, sambil melirik padaku.

Tepuk tangan para guru membahana, dan terus membahana…

*
Di tengah tepuk tangan yang membahana itu, Syekh Mukhlisin berbisik pada seorang perempuan muda yang berdiri di sampingnya, “Maaf Mbak Panitia, ngomong-ngomong…ada kwitansi yang harus kutanda-tangani nggak? sudah selesai nih materinya…”

Tepuk-tangan para guru terdengar sampai ke surga.

Pilkada Langsung via DPRD

Tuesday, September 09, 2014 0 Comments A+ a-


"Kalau dicermati logika para anggota DPR itu sederhana dan baik nawaitunya...," Ujar Moh Stamper berapi-api di depan muka Sutopo, Ki Gemblung, dan Batin Kusdi. "yaitu biar distribusi duit haram yang selama ini tersebar secara merata ke segenap rakyat bisa diberhentikan-- dan untuk itu mereka siap mengorbankan diri--biarlah mereka saja yg menampung dosa yang berasal duit haram dari para kandidat bupati dan walikota, dll, rakyat yg emang sudah susah jangan ikut-ikutan."

Sutopo manggut-manggut sok ngerti. "Jadi alasan biat irit itu cuma kilah dari sudut pandang administratif dan akuntansi yg mereka bikin-bikin, padahal argumen sesungguhnya adalah meletakkan kemaslahatan uhkrawi rakyat di atas kepentingan perut yang fana," tegasnya.

"Tepat!," kata Moh Stamper. " Para anggota DPR itu, yang sebagian besar pernah didik langsung oleh UFO, bukan tak mengerti soal esensi atau substansi atau apalah istilah2 lain ttg bagaimana seharusnya tindak demokrasi. Mereka punya perspektif yg lebih holistik, yang melewati dimensi ruang-waktu lahiriah. Soal esensi berdemokrasi--itu kan masih duniawi! untuk apa mempertahankan sesuatu yang sekiranya hanya akan menjerumuskan rakyat kecil ke neraka karena ikut makan duit haram. Jadi sekali lagi, mereka mengikhlaskan diri mereka menjadi martir, yg siap menampung seluruh duit haram tsb, yg penting rakyat aman.

"Jadi, para anggota DPR itu sesungguhnya tengah mengambil dan meneladani perilaku Sufi Rabiah Al Adawiyah--yg merelakan tubuhnya membesar hingga menutupi keseluruhan neraka agar...."
Plaaakk!!!

belum lagi Moh Stamper menyelesaikan kalimatnya-- tamparan dari jurus Bego Tak Kunjung Padam milik Syekh Mukhlisin menghantam pelipis kanannya.

Moh Stamper seketika kesambet. Sutopo, Ki gemblung, dan Batin Kusdi pura-pura nyuci piring. Sementara Syekh Mukhlisin sibuk nyumpahin Moh Stamper sambil mengelus-elus gandaran cincin akik darahnya yang penyot.

Do'a Syekh Mukhlisin

Sunday, September 07, 2014 0 Comments A+ a-


"Duhai, Mick Jagger, ajari kami cara mengelola hati biar bisa tetep sok asyik sampe tua. Ajari tubuh kami bergerak biar bisa terus jejingkrakan di tengah gelombang irasionalitas di negeri kami. Ajari kami mendowerkan bibir kami kepada pejabat dan pendidik yg tak tulus menjalankan tugasnya.Ajari tenggorokan kami terus bersuara serak sok merdu untuk menyanyikan kemiskinan struktural dan batin kami. Ajari pinggul dan mata kami bersikap ironis terhadap kepengecutan hati kami. Ajari kami bersikap semau-maunya dan petantang-petenteng terhadap rayuan usus dan kelamin kami. Ajari kami untuk terus istiqomah berkelompok memperjuangkan cita2 dan mimpi kami. Duhai, Mick Jagger, ajari kami daya hidup, biar bisa terus enjoy, biar gerak-langkah kami ng-estetik, tidak kaku dan melotot seperti mata 'kebenaran' yg sering mendelik melihat tingkah kami."


-- Munajat kaum Jaggerian.
(Baik dibaca setelah salat subuh dan ashar, masing2 3 kali.)

Berkunjung ke Rumah Nenek

Friday, September 05, 2014 0 Comments A+ a-


Syekh Mukhlisin berujar padaku tentang adab berkunjung ke Rumah Nenek:

"Ada 'keadaan-keadaan' di mana kamu melihat pemandangan alam dll yang kau lalui selama menempuh perjalanan. Juga ada 'stasiun-stasiun' atau 'terminal-terminal' di mana kau berhenti lalu menetap di desa sekitarnya atau justru kau melanjutkan perjalanan untuk kemudian tiba pada 'stasiun' berikutnya.

kekeliruan lah jika kemudian kau terpukau dan menganggap bahwa pemandangan2 alam atau 'keadaan-keadaan' yang kau lihat dan rasakan selama perjalanan sebagai sesuatu yang menetap, kekal, selayaknya sifat 'stasiun-stasiun'. Yang lebih lucu lagi adalah jika kau kemudian bertengkar dengan sesama pejalan tentang kehebatan masing-masing 'keadaan pemandangan alam'. Karena bisa saja sesama pejalan mendapatkan, merasakan, dan mempersepsikan 'keadaan alam' yang berbeda dalam penglihatannya.

Rute perjalanan yang berbeda, jenis kendaraan yang berbeda, waktu perjalanan yang berbeda, mood dan level pengetahuan pejalan yang berbeda, dll, akan mempengaruhi 'apa keadaan pemandangan alam' yang ia lihat juga perasaannya terhadap 'keadaan' tsb--meskipun 'stasiun' yang ditujunya sama.

Jadi, selama dalam perjalanan, nikmatilah 'pemandangan alam' yang kita lihat, hayati betul-betul, catat dengan benar, tapi simpanlah untuk diri sendiri. Jangan buru-buru kau kabarkan 'keadaanmu' kepada orang lain, apalagi kemudian kau paksa orang lain untuk percaya dan mengalami 'keadaan'-mu. Kau boleh berbagi cerita, tapi jangan paksa pejalan lain untuk percaya dan meyakini ceritamu. Kau boleh menganggap 'keadaanmu' sebagai kebenaran, faktual, tapi sesungguhnya kebenaran 'keadaan' itu 'benar untuk dirimu', belum tentu untuk orang lain. Kebenaran dan kebaikan dalam 'keadaan' selalu bersifat parsial dan sementara. Jika kendaraanmu terus melaju, maka kau akan melihat lagi kebenaran2 pada 'keadaan2' yang baru. Saat kau 'mengekalkan dan menguniversalkan' kebenaran 'keadaan-mu' pada pejalan lain--itu lah tanda bahwa kau mulai tertipu.

Hormati pejalan lain yang mungkin mengalami 'keadaan alam' yang berbeda. Lalu, jangan keblinger menganggap 'pemandangan' tersebut sebagai 'stasiun' di Desa Nenek. Sebab kalau kamu memang sudah sampai ke Rumah Nenek, maka kamu gak akan bingung lagi, gak lompat dan ganti rute serta kendaraan lagi, gak kesulitan lagi mengidentifikasi siapa dirimu, apa bakat dan peranmu. Di Rumah Nenek kamu akan produktif; memberi makan lele, nanem cabe, memperbaiki pagar, ngasah akik, nyebur dan berenang di kali dan tentu saja--menikmati makan siang atau malam lezat khas kampung yang dibuat Nenek. "

Antara Guru dan Murid

Thursday, September 04, 2014 0 Comments A+ a-


Orang yang memberikan hatinya cenderung untuk memberikan pula kepalanya, Ujar Syekh Mukhlisin. Karena itu menjadi penting sekali bagi guru untuk terlebih dahulu mendapatkan hati para muridnya.

Murid yang sudah dapat memberikan hati kepada guru berkemungkinan besar dapat menyerap pelajaran2 dengan lebih cepat dan lebih baik. Mengapa? karena pada diri orang yang 'percaya', 'yang hormat'-- informasi dan data2 yang diucapkan guru akan lebih 'berbunyi' baginya. Murid 'yang percaya' akan menyerap data tanpa atau dengan meminimalisasi negasi (dalam pengertian yg negatif). Ia akan berlaku bagai gelas kosong yg bening, yang sedikit saja data/informasi masuk ke dalamnya akan memberi warna dan pengaruh signifikan begi perkembangan dirinya.

Bahkan ada ujar-ujar dalam tradisi sufi, bahwa berkhidmat kepada guru lebih penting ketimbang menuntut ilmu. Ini tidak berarti bahwa belajar menjadi tidak penting, tapi menegaskan bahwa berkhidmat kepada guru akan memberikan dampak yg sangat signifikan bagi tujuan menuntut ilmu/belajar itu sendiri, yaitu 'Keberkahan ilmu' dan 'manfaat ilmu'. Sebab apalah artinya menuntut ilmu jika murid tak mendapat 'berkah dan manfaat' karenanya.

namun memberikan hati bukan lah soal mudah. Hati hanya bisa didekati dan dikencani dengan hati. Berarti faktor 'niat yang bersih' dan 'ketulusan' mengajar dari guru amat berperan penting di sini. Ia adalah syarat utama. Fondasi bagi hubungan percintaan yang mesra antara guru dan murid. Selanjutnya, tentu saja faktor track record, pengalaman praktikal, keluasan wawasan dan pengetahuan, dan penguasaan keterampilan adalah syarat-syarat yg rasa2nya tak bisa ditawar jika guru ingin agar murid memberikan hati kepadanya.

Syekh Mukhlisin di Gugat!!!

Tuesday, September 02, 2014 0 Comments A+ a-


Karena merasa sering dihina dan dilecehkan dengan sebutan2 yg tak pantas--Sutopo, Moh Stamper, Subandi, Maswir, Robert, dan aku bersepakat mengadukan Syekh Mukhlisin ke polda Lampung.

"Spesifiknya, apa saja sebutan2 dari Syekh Mukhlisin yg menurut Anda-anda sekalian terasa menghina dan melecehkan itu?" tanya petugas.

"Kucing kesurupan, Pak," kata Maswir.

"Trenggiling laper," ujar Moh Stamper.

"Beruk tak bertuan," sahut Sutopo.

"Kucing kidal,' tegas Subandi,

"Tikus gak berpendidikan," kataku.

"Sepi yang tak pernah berakhir," pungkas Robert.

"Maksudnya, Mas, sepi yang apa...? petugas itu kelihatan bingung.

"Yang tak berakhir, Pak," ulang Robert.

"Itu termasuk hinaan dan pelecehan menurut Anda?"

"Sangat menghina, Pak," tegas Robert.

"Baiklah... (petugas itu agak bengong sekejap, lalu), pengaduan Anda sekalian sudah kami catat. Lantas apa yg Anda-anda kehendaki?"

"Usut dan penjarakan, Syekh Mukhlisin. Sebab dia sdh secara gamblang, terstruktur, dan sistematis menghina dan melecehkan harkat kemanusiaan kami!" jawab Moh Stamper tegas.

"Oke. Kalau begitu besok kami akan mempertemukan mas-mas sekalian dengan Syekh Mukhlisin di sini. Kami akan coba menempuh jalan damai. kalu masih juga tak ada kecocokan antara kalian, maka secepatnya kami akan melakukan penahanan terhadap beliau," kata sang petugas.

Keesokan harinya, Syekh Mukhlisin sudah duduk berhadap-hadapan dgn para sahabatnya tersebut di ruang kanit lakalantas.

"Baiklah, saudara Syekh Mukhlisin, Anda kami undang karena ada pengaduan dari saudara-sudara yg ada di hadapan Anda ini--bahwa Anda kerap menghina dan melecehkan mereka dengan kata dan kalimat2 yg tak pantas, tak santun, dan melompati norma-norma ketimuran. Apa benar begitu, saudara Syekh?" tanya petugas polisi secara cepat, tegas, dan terpercaya.

Syekh Mukhlisin diam. Matanya terpejam. Sutopo Cs duduk rapi mematung dengan sikap Mahadewa dan Dewi Parvati.

"Sejak kapan kamu sekalian merasa sebagai manusia, hai para trenggiling dan ular kadut sekalian!!" tiba-tiba Syekh Mukhlisin menggelegar.
Moh Stamper langsung merasa sekujur tubuhnya dipenuhi ulat bulu. " Tuh kan, Pak,...mulai lagi dia kan....." katanya.

"Sekali lagi gua nanya, sejak kapan kalian merasa dan berhak dipanggil manusia?!! Setiap hari bertindak tidak berdasarkan nalar yg sehat kok merasa manusia! Setiap hari orientasi hidupmu cuma mikirin kepentingan perut dan kelamin kok merasa manusia! Setiap hari usahanya cuma terus-menerus memperkokoh egonya sendiri kok merasa manusia! Kalian pikir kalu kalian makan, tidur yg nyaman, kelonan sepanjangan dengan bini, dan petantang-petenteng ke sana kemari memamerkan kekuasaan dan kekayaan itu sdh membedakan kalian dengan monyet dan tupai? Tidak!! Karena monyet, tupai, dan musang juga bisa makan, beol, kawin, dan petantang-petenteng dihadapan bininya dan saingannya!!

Kalau kalian memang merasa manusia seharusnya kalian juga berusaha membangun lingkungan sosial dan kultur kalian, karena macan dan beruk tak bisa dan tak mungkin mampu melakukan itu! Kalau kalian merasa manusia harusnya kalian kreatif, karena bunglon tak mungkin bisa kreatif! Kalau kalian merasa sebagai manusia harusnya merasa malu menonjol-nonjolkan kepentingan perut dan kelamin kalian ke mana-mana! Kalau kalian merasa sebagai manusia mestinya kalian sadar--bahwa yg membedakan kalian dgn binatang itu bukan kemampuan beol, kawin, tidur di rumah yg nyaman, dan memperkokoh kekuasaan kalian, tapi kemampuan kalian untuk berempati, kreatif, menggunakan nalar dgn logis dan tepat, dan memiliki kasadaran thp kehidupan batin.

Pernah kalian melakukan tindakan, apa pun jenis tindakannya, bahkan tindakan yang katanya pendidikan dan tindakan religius, yang tidak didasari kepentingan perut, kelamin, dan ego individual kalian? yang nawaitu-nya murni dari kesadaran hati atau prinsip-prinsip intelektualitas atau kesadaran spirirtualitas? pernah??!!"

"Kelihatannya belum, Syekh...." jawab Robert pelan.

"Lantas mengapa kalian tersinggung waktu kalian kusebut kucing, trenggiling, beruk, unggas, dan ikan betok hahh!"

"Tapi, Syekh...Anda juga memanggil saya Sepi Yang Tak Pernah...,"

"Alaaaahhh......Dasar petai kalian semua! biji kelahar dan busi karatan kalian semua! Onderdil motor dan Batu Sungai Sareh kapuran kalian semua!!" syekh Mukhlisin mengamuk. Ia berubah jadi kukang berbulu merah.

Di ruangan Kanit lakalantas itu jamur-jamur, lumut, dan cacing mulai bermunculan.