Syekh Mukhlisin pernah bilang...

Sunday, October 13, 2013 0 Comments A+ a-


Syekh Mukhlisin pernah bilang begini padaku:

"Kawan, orang pandai adalah orang yang tahu benar mana orang yang benar-benar pandai, mana orang yang agak pandai, mana orang yang pura-pura pandai, dan mana orang yang pura-pura bodoh. Begitulah cara untuk mengukur maqommu sendiri."

"Kalau begitu tepatlah ungkapan di kalangan sufi yang mengatakan 'hanya seorang wali yang mengenal wali'," kataku.

"Demikian adanya."

"Berarti, orang bodoh adalah orang yg buta terhadap kebodohannya sendiri, apalagi terhadap kepandaian orang lain."

"Sahih. Nur seseorang yang pandai akan sampai, bahkan sebelum ia bicara. Demikianlah yg diujarkan Guru Mulia Syekh Abul Hasan As-Syadzjali, Ra."

Aku menangis.

Ajang Miss World

Tuesday, September 17, 2013 0 Comments A+ a-


Mulut kami menganga; Syekh Mukhlisin, memakai kacamata berwarna biru bulat ala John Lennon, jaket kulit lusuh dan pudar ala penyair lawas yg melapisi kaos merah bergambar (Alm) Nike Ardilla, bercelana jeans, anting di telinga kiri, sepatu pantofel warna putih ala bandit Palembang, rambut tersisir basah, dan jari hampir penuh diisi akik Yaman dan Badar Besi, menyalami kami satu-persatu dengan yakinnya. "Aku pamit permisi. Mohon doanya."


"Lho, mau kemana, Syekh?" ujarku.

"Ada aja."


"Jangan gitu dong...Mau kemana sich...?" kata Sutopo

"Mau tau aja atau mau tau bener...?"

"Ya mau tau bener lah!! Kalau bisa kami ikut sekalian.." jawab kami kompak.

"Ya nggak bisa! nggak seru kalu kalian ikutan..."

"Yo Wis, kami nggak ikut. kami cuma pengen tahu, Syekh mau kemana? kok mendadak and gak pake rapat dulu dgn kami..." kataku lagi.


Hening

"Aku mau ke Bali."

"Wah seru dong!!" teriak Robert. "Syekh mau ikut membubarkan final miss world ya? Bakar Syekh! Bakaarrrrrr!!!"

"Ngapain aku ikut-ikutan ngebubarin acara miss world!! ya mau nonton lah!! kalian gak usah ikut-ikutan goblok ya--masih banyak hal lain di republik ini yg perlu didemon, dibubarkan, atau kalau perlu ditembak mati sekalian ketimbang sekerumun cewek2 cantik nan seksi yg punya niat baik untuk memberdayakan tubuhnya dan negaranya itu--yaitu para koruptor dan bandit2 yg menghisap potensi finansial dan kultural bangsa ini. Kalian gak usah ikut2an jadi kaum kebanyakan yg cuma bisa koar2 ceriwis ngurusi hal-ihwal yg kecil dan sepele seperti konser lady gaga atau miss world ini, tapi bengong dan cengangap aja melihat para bandit koruptor melenggang masuk ke ruang tamu rumah2 kalian sambil menyerahkan bingkisan...


...Masih mending kalian isi kepalamu itu dgn bokong semlohoy para kontestan miss world itu, ketimbang kau isi kepalamu dgn siasat2 untuk ngapusi rakyat dan bangsa. Karena kalau kepalamu isinya cuma bokong, maka yg runyam ya cuma batin dan otakmu sendiri. Tapi kalau isinya kepalamu itu siasat2 untuk ngapusi rakyat--mudharatnya kamu bagi2 ke semua orang! Pahammm!!?" Semprot ludah Syekh Mukhlisin berkobar-kobar.


"Pahamm!!," kami bareng menjawab.

"Apanya yg paham!?"

"Bahwa kami harus juga bertekad ikut ke Bali!" ujarku mantab.

"Bahwa kami harus mengisi kepala kami dengan bokong!" kata Bily.


Hening

Syekh Mukhlisin menatap jalan yg jauh di depan. Ada kabut yang mulai turun dan melangkah pelan-pelan. "...bukan aku tak mencintaimu. tapi diriku merasa malu. kau si raja kaya. aku raja sengsara. dunia kita, selalu...," gumam Syekh Mukhlisin perlahan.

Perahu

Saturday, June 29, 2013 0 Comments A+ a-

Setelah hampir seminggu raib bak ditelan ikan, tiba-tiba tengah malam tadi Syekh Mukhlisin nongol ke kontrakan kami. kami yg saat itu sedang begadangan sambil maen kartu tentu saja terlonjak senang, karena hampir seminggu tanpa kehadiran beliau; cengangas-cengegesnya, tidur dan kentut seenak udelnya, sok bijak dan sok tahunya--meski kerap mengganggu, tapi juga bikin rindu.

Syekh Mukhlisin ujug-ujug duduk dan diam saja di hadapan kami. Rambut dan bajunya awut-awutan, badan dan wajahnya terlihat lecek, tapi sorot matanya--tetap saja penuh percaya diri (bahkan cenderung mengarah ke nggak tahu diri).

"dari mana aja, Syekh?" ujarku hati-hati, takut salah omong.

"Tujuh hari lalu aku didatangi Maulana Khidr as di empang belakang rumahku. Aku diberinya paku dan palu. Aku senang, tapi sekaligus juga kaget--untuk apa nih paku dan palu? Lantas, Beliau bilang: paku itu harus kau pakai untuk melubangi sampe bocor perahu-perahu yg nantinya dipakai oleh para cagub dan cawagub untuk membohongi rakyat. Perahu-perahu itu, ujar Maulana Khidr, adalah amanah sekaligus media yg seharusnya dipakai untuk menyampaikan keluh-kesah rakyat kecil ke dermaga kenyataan pembangunan yg adil dan penuh empati thp kesejahteraan ekonomi-sosial. Tp, kenyataan di sungai dan lautannya berbeda--perahu-perahu itu malah sering dipakai untuk mengangkut kepentingan partai mereka sendiri, kepentingan keluarga mereka sendiri, kepentingan syahwat perut dan ekonomi mereka sendiri. Dermaga mereka klaim sebagai milik privat dan bukannya untuk publik. Siapa-siapa yg nantinya akan masuk untuk menyebrang ke lain pulau, baik untuk berdagang atau sekedar untuk melihat-lihat pemandangan--harus setor duluan 20 % dari total keuntungan hasil dagang...

Jadi, para Cagub dan Cawagub itu kerjaannya cuma menyedot potensi dan hasil bumi coro-coro macam kayak kita ini, lalu mengangkutnya pakai perahu ke istana mereka yg ada di seberang dermaga. Karena itulah aku dikasih palu dan paku ini oleh Beliau...biar perahu-perahu itu tak disalah-gunakan..."

"Lantas, kok Anda terlihat lecek dan semerawut sekali, Syekh?" kata Sutopo.

"Karena sudah semingguan ini aku puasa dan ngewiridin paku ini pake Hizb Nashr sebayak 7777 kali agar ampuh dan bisa makbul untuk nyoblos dan nenggelemin perahu-perahu itu...Alhamdulillah tirakatku selesai. Tadi malam, perahu-perahu para Cagub-cawagub itu sudah sukses kulubangi. Jadi, kalau mereka nanti mendayungnya dgn niatan untuk tetap ngapusi dan nyurangi rakyat banyak, maka secara otomatis sirr dari Hizb, puasa, dan wirid yg kulantunkan berulang-ulang ke langit ini akan menghantam mereka secara telak dan otomatis. Mereka akan tenggelam dalam lautan kegelisahan dan rasa haus yang tak kunjung usai. Diri mereka akan tercerai-berai--seluruh anggota psikis dalam dirinya nggakkan kompak lagi selamanya. Mereka akan mengidap penyakit 'Forever Skizofrenia' yg akut--karena apa yg dikehendaki oleh hati nurani mereka bertentangan secara seketika dan terus menerus dgn naluri, pikiran, dan anggota tubuhnya. Apa yg dikehendaki dan diamini nalar mereka, nggak kunjung seiring sejalan dgn apa yg dikehendaki dan diamini syahwat, pikiran, dan panca indera mereka. Sebab itu sekarang aku bahagia...tugasku tunai...mudah2an kita, para coro dan tikus got dalam rumah mewah pembangunan ini agak sedikit aman. Insyaallah..." ujar Syekh Mukhlisin sambil menarik nafas panjang dan beristighfar berulang-ulang.

Tapi tiba-tiba Moh Stamper entah darimana masuk ke rumah, terengah-engah, dengan mata ketakutan kayak habis bertemu roh mantan presiden Soeharto. Secara serentak kami berdiri, melompat, dan memasang kuda-kuda. Syekh Mukhlisin salto dan mengambang di plafon...

"Celaka, Syekh, ...Celaka..." ujar Moh Stamper. "Tirakatmu sia-sia, Syekh. Para cagub dan cawagub itu urung memakai perahu-perahu itu untuk menyebrang ke dermaga. Mereka semua pakai ilmu baru, warisan Aladin katanya. Jadi mereka menyebrang tidak menggunakan perahu, tapi sejadah terbang yg bahannya dijahit dari lembar-lembar duit 50 & 100-ribuan....maaf, Syekh,...puasamu percuma..."

Udara seketika memadat. 

Ruang dan waktu berkumpul dalam satu hentakan-- "AAAkhhhhhhh!!!....." teriak Syekh Mukhlisin, lalu jatuh dari plafon kesurupan sebentar, dan pingsan.


*

Hasil Diagnosa dokter di RS Abdoel Moeloek tadi: 
Syekh Mukhlisin kena demam berdarah.

KEBETULAN ADALAH BAGIAN DARI IMAN

Thursday, June 20, 2013 0 Comments A+ a-

KEBETULAN ADALAH BAGIAN DARI IMAN. kalimat yg ditulis pake spidol merah itu sekarang nagkring di dinding ruang tamu kontrakan kami yg baru dgn gagahnya. Kontan kami protes, siapa yg nekat bikin n nempel poster yg gak jelas sanad-matannya macam begini--du ruang tamu pula. Tapi, melalaui penyelidikan yg gak terlalu dalam, ketahuan kalu yg membuat dan menempel poster itu adalah Syekh Mukhlisin. Wah, ngawur nih Syekh! ujar Sutopo, salah satu pemain teater kami yg alumni IAIN.

"Maksudnya ngawur?" kata Syekh Mukhlisin.

"Yaa..nggak ada riwayatnya bahwa kebetulan adalah bagian dari iman, Syekh. Yg ada Kbersihan adalah bagian dari iman, menyingkirkan duri di jalan adalah bagian dari iman, malu adalah bagian dari iman...dan lain sebagainya. Nah, kalau kebetulan ini aku belum pernah membacanya."

"Memangnya apa definisimu tentang Iman?" tantang Syekh Mukhlisin. "Iman itu kan sesuatu hal yg harus kita yakini kebenarannya. Ia bisa berada di dasar, akar, atau menjadi muasal dari tindakan--atau bisa juga ia menjadi tindakan, atau output, tapi dihasilkan dari keyakinanmu akan sesuatu. Menyingkirkan duri di jalan, malu, atau bersih-bersih kan semuanya adalah output, buah dari pemahaman dan keyakinanmu ttg apa yg baik dan apa yg tidak baik. Dan yg baik dan tidak baik ini muncul dari pemahamanmu yg holistik ttg keagungan zat, asma, dan af'al Allah SWT. Nah, KeBETULAN, baik secara konseptual maupun bentuk lahiriah--menurutku merupakan buah dari kerja tuhan yg Maha Menentukan, Maha Kuasa, Maha Menciptakan, Maha Kreatif, Maha Mengatur, dll. Adanya KEBETULAN adalah buktii yg konkret--bahwa engkau tak memiliki kuasa atas masa depanmu, hari esok, dll. Bahwa wewenang yg diberikan kepadamu sebatas pada merencanakan dan berharap-harap--tp keputusannya mutlak di tangan tuhan, Bahwa di setiap langkah linier horizontal, akan ada potongan-potongan garis vertikal yg tak bisa kau tebak di mana dan kemana titik potong dan arahnya...

Makanya kalian jangan heran kalau melihat banyak bertabur 'kebetulan' dalam lingkungan sosial-kultural-ekonomi-(dan lebih2) dunia politik di tanah air kita tercinta ini. 'Kebetulan' bapaknya gubernur--maka ia jadi bupati. 'kebetulan' bapaknya bupati, maka ia juga menjadi bupati. dll...dll..."

"Wah, berarti pergaulan hidup sosial kita nggak rasional dong Syekh?" ujar MOh Stamper antusias.

"Siapa bilang hidup di Indonesia ini rasional. Rasionalitas itu kan fondasi, media, sekaligus buah dari kalkulasi-kalkulasi berdasarkan hukum sebab-akibat, logika linier, dan dialektika. Lah dimana kita bisa merasionalisasi jabatan menteri-menteri yg nggak sesuai dgn latar belakang kuliah atau ilmunya itu? Kuliah di Fakultas Pertanian kok kerja di bank...? kuliah di FKIP kok jadi makelar politik...? dsb. Saya berani memastikan bahwa lebih dari 75% orang2 Indonesia yg sekarang bekerja di suatu bidang pekerjaan tidak sesuai dgn latar belakang keilmuan yg dijalaninya sewaktu ia kuliah dulu...dan pasti 90% orang bekerja di bidang yg bukan ia cita-citakan secara sadar dan rasional. Semuanya bekerja karena 'kebetulan-kebetulan'. Jadi bupati kebetulan, jadi guru dan dosen kebetulan, jadi bisnisman kebetulan, jadi menteri kebetulan, jadi gubernur kebetulan, jadi penulis dan penyair kebetulan, jadi dukun kebetulan, jadi aktor teater kebetulan, jadi pejabat kebetulan, dll. Maka itu saya katakan: Kebetulan adalah bagian dari iman. Di Indonesia--kebetulan adalah keniscayaan dan kepastian. Engkau tak bisa berpegang pada kepastian dan rasionalitas. Engkau harus beriman pada kebetulan...hahaha...

Makanya, di republik atau di provinsi ini tidak dibutuhkan profesor2 dan doktor2 ilmu politik dan pemerintahan! Nggak laku mereka untuk jadi penentu kebijakan pembangunan di negeri kebetulan. Yg dibutuhkan ialah: kalau kamu 'kebetulan' punya bapak kaya raya, maka kamu bisa nekat nyalon jadi bupati atau gubernur...haha...

Karena itu kalian jangan mudah ge-er. Hidup dan kerja karena 'kebetulan' kok ngengkeng...mestinya ditanamkan dalam hati kita dalam-dalam, dgn tawadhu, bahwa kebetulan yg kualami ini pasti bukan kebetulan, jadi aku harus sungguh2 menjalani peran kebetulan ini, melakukan optimalisasi akting terhadap adegan yang 'kebetulan' ini, sehingga sikap dan hasilnya nanti gak 'kebetulan' baik dan bagus. Contoh salah seorang guruku (namanya sengaja kurahasiakan): dia niatnya mau bikin novel, eeh...kebetulan yg jadi buku puisi...hahaha untung puisinya keren2, jadi itu kebetulan yg keren juga namanya...hahahah..."

Aku, Subandi, Gurjep, Moh Stamper, dan Sutopo secara kebetulan manggut-manggut bareng.

"Dan kalian adalah contoh dan bukti kebetulan-kebetulan yg paling parah...hahaha..." Syekh Mukhlisn mingkel-meingkel ketawa sampe terguling2.

"Maksudnya, Syekh?"

"Kalian kan kebetulan aja jadi manusia, karena kalian sebetulnya beruk! hahaha...." kata Syekh Mukhlisin.

"Berarti Anda juga sebetulnya Beruk dong, Syekh, atau minimal Anda ini sebetulnya batu asahan....hahahahahuhuhihii..." Ujar Moh Stamper nekat.

Suasana menjadi hening seketika.

Munajat Syekh Mukhlisin

Thursday, May 30, 2013 0 Comments A+ a-


"Tuhan, coba sekali-sekali, kau atur agar masa depan yg sibuk mikirin aku, 
bukan aku yg mikirin dia.



Aku mau rileks aja, Tuhan. Kalau dipikirin terus, nanti si masa depan 
jadi sombong, besar kepala, merasa dibutuhin, merasa perlu disamperin 
dgn pendekatan khusus, dengan kalkulasi khusus--



karena dia lah aku jd ngotot, ingin memasti-mastikan segala sesuatu.
Terhadap kawan aja, aku jd males senyum
Takut masa depanku kabur, diserobot kawan


Aku salat, tapi yg ada di kepala dan hatiku cuma rencana2ku
untuk mendekatinya, bukan Kamu. Aku berdoa, cuma untuk
menyampaikan kegelisahanku, kekhawatiranku,
dan bukan menyanyikan suka-cita untuk-MU.

Kubilang aku mencintaiMu, padahal, sungguh Tuhan, aku sungguh-sungguh
hanya mencintai diriku sendiri.


Aku jd heran sendiri, Kok niatnya mau bahagia, aku jd gak bahagia?
Berhadapan dgn masa depan, Tuhan, aku jd salah tingkah!

kalau sekali-kali aku salah, kan boleh aja dong!
kalau sekali-kali aku terlihat bodoh, kan boleh dong!
kalau tiba-tiba aku kalah, nggak bisa nentuin pilihan, nggak pasti,
kan boleh aja dong?
masak aku harus terlihat pintar terus? Menang terus? Pasti terus?


Jadi, tolonglah, Tuhan, Dikaulah yg menciptakan mahluk yg maha abstrak
dan nggak pasti itu, 
Bilang padanya--gua nggak takut!"



Silaturahmi

Monday, May 27, 2013 0 Comments A+ a-

“Kamu Som-se!” ujar Syekh Mukhlisin tadi pagi di kontrakanku sambil mukanya plengas-plengos gak keruan. “Kamu som-se, sombong sempurna, aku kontak sudah semingguan ini, kok gak dijawab. Kemana aja kamu?”


“Aku di rumah aja, syekh. Kalau keluar paling banter latihan teater kok,” jawabku.

“Terus, kok teleponku kemarin gk kau jawab?”

“Oh, waktu itu aku lagi nge-sms pacarku, Syekh.”

“Emailku sejak minggu kemarin, juga gak kau respon?”

“Oh...belum sempet kubuka inbox-nya Ya Syekh, aku ke Mesuji, lagi ada proyek pengadaan komputer.”

“ Aku juga kirim surat, kok gak kau bales-bales?”

“Wah, mungkin belum nyampe suratnya Syekh. Tp, memang aku kan sedang ada di luar rumah?”

“BB-mu gak aktif?”

“Nggak, aku lagi banyak rapat Syekh.”

“Terus, td malam kemana? Aku kan datang ke mimpi-mimpimu tp kamu ga nyambut aku? Padahal aku terpaksa meditasi seharian biar bisa masuk dan menjumpaimu ke alam mimpimu, kok kamu tetep gak ada?”

“Oh, memng dari td malam sampe sekarang aku belum sempet tidur, Syekh, jd memang aku belum mimpi seharian ini...” kataku.



“Wah! Itulah! Sombong sekali kamu! Katanya kita berteman, tp selalu enggan kau mendengarkan tegur-sapaku. Katanya kita sehati, tapi kau selalu sibuk dgn pikiran2mu sendiri! Boro-boro kau mau menghampiri dan mengunjungiku, mendengarkan aku pun kau tak mau!"

"Maaf Syekh..." kataku.


"Inilah kamu ini--maunya cuma berbicara, tp gk mau mendengarkan! Kamu selalu sok sibuk dgn pikiran dan perasaanmu sendiri sich. Terus nanti kalau kamu kepepet, proyek lg seret, jodoh gak kunjung dapet, jabatan banyak yg ngusilin, nglamar kerjaan sana nglamar kerjaan sin mentok, pacarmu selingkuh, di rumah ribut cekcok terus, hati galau terus, ada sanak saudara yg sakit, bingung nentuin pilihan hati, kok gak eksis-eksis, dan lain sebagainya--baru kamu ngajakin aku berdoa ama tuhan, baru kamu maksain tuhan supaya menggunakan asmanya yg Maha Mendengarkan itu untuk mendengarkan ocehanmu, curhatmu. Kamu anggap tuhan itu psikiater atau tempat sampah apa? yg cuma boleh diam dalam posisi menyimak dan mendengarkan, tapi suara-Nya nggak mau kamu dengar...?!

Lantas kalau doa2mu kau anggap macet, proposal harapan dan cita2mu belum selesai di proses di Arasy, kamu protes! lalu nganggap bahwa tuhan gak fair karena nggak mau merespon kecerewetan doa2mu. Padahal Dia setiap saat menyapamu, berbicara padamu, merespon nyanyian dukamu, tapi kupingmu aja yg budeg!

Gimana kamu akan mampu mendengarkan suara yg maha Indah dan Maha Halus dan Merdu itu kalau setiap detik di otak dan batinmu kau sibuk berbicara, ngoceh, mainin HP terus, BBM-an terus, nge-sms terus, facebook-an terus, mengumpat terus, berprasangka terus, khawatir terus selama 24 jam dalam sehari...

Coba sekali-kali kau duduk hening. Diam. Biarkan pikiranmu bergerak, namun kau hanya menyaksikan kelebatan sibuk pikiran-pikiranmu itu...Biarkan perasaanmu bergolak, namun kau tak terlibat dalam gebalaunya itu. Hening. Diam....Tenangkan otak dan batinmu...Jangan berbicara, jangan menilai...hanya mendengarkan...Setelah itu barulah kau akan mampu mendengarkan suara-Nya...jangan bergerak, baru kau akan menyimak detak langkah-Nya...

Diam...Hening...Hanya mendengarkan...Dengarkan....hanya mendengarkan..." Ujar Syekh Mukhlisin menasehatiku sangat khusuk. "Paham...?" katanya.

Tuuliluluit....! Tulilululit....! Rriiiiiinnggg...!! rupanya HPku berbunyi. "Wah, Maaf Syekh, aku cabut dulu nih. Dipanggil teman, ada rapat untuk survey pilkada. Biasa Syekh...argo bawah.." Kataku sambil bergegas cabut.


*

Syekh Mukhlisin termenung sendirian. 
Di matanya--ada padang sabana yg luas terbentang.
Ia menarik nafas panjang,

amat perlahan...

Tafsir yg menurut prasangka

Monday, May 27, 2013 0 Comments A+ a-

Bakda salat dhuhur td kuperhatikan Syekh Mukhlisin banyak diamnya. Biasanya, seusai mewirid, dia pasti cengar-cengir sok bahagia, duduk anteng di halaman belakang, kemudian mengeluarkan sebatang dji sam soe, lalu menghisapnya dgn khusuk dan dalam bak juragan jengkol habis dapet setoran. Tp, tadi, ia tak melakukan ritual rutinnya itu. Aku sich diam saja tak berani menegur. Ada sekitar 5 menit kami dikepung keheningan, tiba-tiba, barulah ia bicara--

"kamu itu tentu sadar sesadar-sadarnya kan, bahwa tentulah tak semua buku sudah kau baca, tak semua film pernah kau tonton, tak semua pengalaman fisik pernah kau alami, tak semua bentuk perasaan pernah kau rasakan; patah hati, ditinggal istri atau kekasih, dicaci-maki penagih hutang, ditolak perempuan berulang-ulang, kecewa dgn masa lalu dan masa depan, diejek karena dicopot jabatan, dikhianati teman, dsb. Iya kan? demikian juga dgn rasa ragam bahagia...apa smua bentuk kebahagiaan pernah kau mengalaminya? kan belum tentu...

Kamu tentu waras sewaras-warasnya, bahwa tentulah tak semua pengalaman spiritual pernah kau menjalani dan memahaminya kan? apa memang benar2 kau baca dan paham aturan fiqh 4 imam mahzab dalam ahlul sunnah? apa memang pernah kau baca dan coba memahami aturan fiqh dan teologi kaum syiah? apa memang semua bentuk wirid, aurad, hizb2, dan doa2 dari para penghulu macam2 tarekat; Syadziliayah, Qadiriah, sammaniyah, Rifaiyah, Tijaniah, Rock 'n Rolliyah, dll pernah kau amalkan dan kau mendapat pengalaman batin, buah dari pengamalan itu? Apa memang kau hafal sekian ribu ayat yg ada di alquran berikut macam tafsirnya? kan belum tentu! Apa memang sdh kau baca tafsirnya Hamka, tafsirnya Sayid Qutb, Tafsirnya Ibn Katsir, Tafsirnya Pak Shihab, Tafsirnya Pak Maragghi, dll sehingga kau bisa membanding-tafsirkan makna suatu ayat dgn bijak dan dewasa? kan belum tentu! Apa kau pernah mencoba, walaupun sebentar dan penuh rasa deg-degan mencoba berdoa di lengang surau, gereja, vihara, atau pura? kan blm tentu pernah...

Kawan, bahkan untuk sebilah kalimat yg berbunyi, "Aku mencintaimu" pun kita gak boleh buru-buru memberi tafsir yg menurut prasangka kita adalah tafsir yg mutlak kebenarannya! Kalimat yg jutaan kali pernah diucapkan manusia di muka bumi itu tetap harus kita tafisrkan dgn terlebih dahulu melihat; -- siapa yg mengucapkannya? apa latar belakang ideologis, strata pendidikan, agama, dan background ekonomi si pengucapnya? kemudian kita harus tahu--pada konteks apa kalimat itu muncul? Bagaimana kondisi sosiologis dan politis masyarakat sehingga kalimat itu muncul pada ruang tertentu dan tidak di ruang yg lain? pada siapa kalimat itu diucapkan--pacarnyakah, istri atau suaminyakah, anaknyakah, teman tapi mesranyakah, selingkuhannyakah, tuhankah, atau trenggiling kah,? Kemudian, agar menjadi lebih sahih dan komprehensif, tentulah kita harus mencari rujukan-rujukan historis dan filosofis yg mendasari ucapan tersebut--secara fenomenologiskah, secara eksistensialiskah, heurmeneutika kah dll. Tentulah ucapan yg sama yg keluar dari aktivis feminisme akan berbeda sekali maknanya dgn ucapan yg keluar dari mulut pengikut aliran Ahmadiyah, pragmatisme, apalagi pengikut filsafat atomisme logisnya Moore dan Rusell atau Wittgenstein...Lalu bagaimana blocking dan bentuk adegan ketika ia diucapkan--menggunakan realisme dan kewajaran ala-Stanislavski kah? atau menggunakan efek pengasingannya-Brecht? Apakah ucapan itu diucapkan dgn kemurnian impuls si pengucapnya seperti aktornya Grotowski? atau malah memakai pola statis-presisif ala Robert Wilson?

lalu, agar menjadi lebih komplit, tentulah kita juga harus bertanya dan mencari, apakah kalimat "Aku Mencintaimu" itu mempunyai jaringan intertekstual dgn kalimat-kalimat lain yg pernah diucapkan oleh sepasang kekasih dlm novel atau puisi2 tertentu, misalnya. Kita juga harus melacak Hipogram dari kalimat itu; karena tentulah kalimat itu tidak orisinal dan baru pertama kali diucapkan. Kita juga harus melacak makna semiotik-nya, skemata-nya, surface structur dan deep structure-nya, akibat ekonomi dan finansialnya...Kita jg harus melacak--keadaan suasana hati org yg mengucapkan dan org yg mendengarnya? Apakah ucapan itu muncul dari Id-nya?, Ego-nya?, atu sekedar menuruti rutinitas Superego-nya? Atau jgn2 kalimat itu memang sdh ada sebelum sipengucap sendiri mengucapkannya; kalimat yg memang sudah tersimpan dalam arketipe, akhasic, dan lauh-al mahfudz setiap peradaban di semesta?...

Kawan, untuk menafsir secara lengkap satu kalimat itu saja, barangkali kita memerlukan ribuan halaman untuk menganalisanya, apalagi untuk menafsir ayat-ayat tuhan yg tersimpan dalam kitab-kitab-Nya dan tersebar di setiap ihwal di alam semesta ini! itu baru soal agama...belum lagi soal estetika, puisi, bentuk teater, ekonomi makro-mikro, hubungan politik, epistemologi dan aksiologi ilmu, trend pemasaran, jenis-jenis jiwa, model kekuasaan, akar dan perubahan kultural, dampak sosiologis, sistem pembelajaran, dan lain sebagainya...

Jadi, kawanku, kamu gak usah selalu ngotot lah bahwa pendapatmu yg paling benar. Kalaupun benar--itu harus disadari sebagai kebenaran yg terikat oleh latar konteks dan waktu tertentu, tidak menyeluruh dan selamanya. Kamu memang harus belajar 'benar' dan mengatakan 'yg benar', tp kamu jgn sekali-kali meniadakan 'kebenaran-kebenaran' milik yg lain yg juga mungkin sama benarnya. Kebenaranmu dan aku adalah kebenaran yg parsial! Kebenaran yg tak mungkin mampu menjangkau dan merengkuh keluasan seluruh ilmu pengetahuan. Jd, jangan ngotot, jgn membakar, jangan memaki, jgn sok sensitif dgn menggunakan isu-isu agama dan sara ...rileeeks...ok! Paham kan?

"Tapi Syekh......" Kataku coba me....

"Kampang Kamu!!"

Aku langsung ngacir.

Topeng

Sunday, May 19, 2013 0 Comments A+ a-

Entah kesambet apa, td malam tiba-tiba Syekh Mukhlisin maeraupkan tangannya yg kasar ke wajahku; ditarik-tariknya dgn kuat pipi, hidung, bulu mata, kuping, dan bibir di wajahku yg emang amat sangat sederhana. "Lepaskan! lepaskan!," hardiknya.

"Aguuyy...! apa yg harus dilepas, Syekh!?" kataku kesakitan.

"Itu...topeng di mukamu!! topeng hakim, topeng guru, topeng penyair, topeng walikota, topeng aktivis, topeng rektor, topeng kyai, topeng wartawan, topeng motivator, topeng spiritualis, topeng dosen, topeng cerpenis, topeng kontraktor, topeng sok polos dan sok lugu, topeng sok bijak sok paling ngerti org lain, topeng mahasiswa, topeng dakwah, topeng sok rebel, topeng sok tahu, topeng badak topeng luwak topeng monyet! lepasin!! itu bukan kamu!!" kata Syekh Mukhlisin histeris.

"Tapi ini asli, guru!"

"Palsu...! itu bukan kamu. itu peran yg kebetulan dan kadang-kadang aja kamu perlukan untuk kau pakai dan mainkan. Jgn ngotot kalau itu asli dan harus kau pertahankan 24 jam sehari...terus-menerus...sampai kau mati! nti yg masuk sorga topengmu dan bukan kamu, baru nyesel kamu! ujar Syekh lebih histeris lagi.

"Terus yg asli yg mana dong, Bos!!!?" tantangku mulai marah, kerna mukaku terus aja ditarik-tariknya.

"Yang ini...Plakk..!!" katanya sambil melayangkan tapak tangannya keras-keras ke muka kampunganku..


Tak sampai 2 detik, aku sepertinya tak ingat apa-apa...

Tak sampai 1 detik, topeng di wajahku sepertinya sempat terlepas entah kemana...


Di waktu yg tak sampai 1 detik itu...aku merasa begitu bahagia.

Entah mengapa.