KEBETULAN ADALAH BAGIAN DARI IMAN

Thursday, June 20, 2013 0 Comments A+ a-

KEBETULAN ADALAH BAGIAN DARI IMAN. kalimat yg ditulis pake spidol merah itu sekarang nagkring di dinding ruang tamu kontrakan kami yg baru dgn gagahnya. Kontan kami protes, siapa yg nekat bikin n nempel poster yg gak jelas sanad-matannya macam begini--du ruang tamu pula. Tapi, melalaui penyelidikan yg gak terlalu dalam, ketahuan kalu yg membuat dan menempel poster itu adalah Syekh Mukhlisin. Wah, ngawur nih Syekh! ujar Sutopo, salah satu pemain teater kami yg alumni IAIN.

"Maksudnya ngawur?" kata Syekh Mukhlisin.

"Yaa..nggak ada riwayatnya bahwa kebetulan adalah bagian dari iman, Syekh. Yg ada Kbersihan adalah bagian dari iman, menyingkirkan duri di jalan adalah bagian dari iman, malu adalah bagian dari iman...dan lain sebagainya. Nah, kalau kebetulan ini aku belum pernah membacanya."

"Memangnya apa definisimu tentang Iman?" tantang Syekh Mukhlisin. "Iman itu kan sesuatu hal yg harus kita yakini kebenarannya. Ia bisa berada di dasar, akar, atau menjadi muasal dari tindakan--atau bisa juga ia menjadi tindakan, atau output, tapi dihasilkan dari keyakinanmu akan sesuatu. Menyingkirkan duri di jalan, malu, atau bersih-bersih kan semuanya adalah output, buah dari pemahaman dan keyakinanmu ttg apa yg baik dan apa yg tidak baik. Dan yg baik dan tidak baik ini muncul dari pemahamanmu yg holistik ttg keagungan zat, asma, dan af'al Allah SWT. Nah, KeBETULAN, baik secara konseptual maupun bentuk lahiriah--menurutku merupakan buah dari kerja tuhan yg Maha Menentukan, Maha Kuasa, Maha Menciptakan, Maha Kreatif, Maha Mengatur, dll. Adanya KEBETULAN adalah buktii yg konkret--bahwa engkau tak memiliki kuasa atas masa depanmu, hari esok, dll. Bahwa wewenang yg diberikan kepadamu sebatas pada merencanakan dan berharap-harap--tp keputusannya mutlak di tangan tuhan, Bahwa di setiap langkah linier horizontal, akan ada potongan-potongan garis vertikal yg tak bisa kau tebak di mana dan kemana titik potong dan arahnya...

Makanya kalian jangan heran kalau melihat banyak bertabur 'kebetulan' dalam lingkungan sosial-kultural-ekonomi-(dan lebih2) dunia politik di tanah air kita tercinta ini. 'Kebetulan' bapaknya gubernur--maka ia jadi bupati. 'kebetulan' bapaknya bupati, maka ia juga menjadi bupati. dll...dll..."

"Wah, berarti pergaulan hidup sosial kita nggak rasional dong Syekh?" ujar MOh Stamper antusias.

"Siapa bilang hidup di Indonesia ini rasional. Rasionalitas itu kan fondasi, media, sekaligus buah dari kalkulasi-kalkulasi berdasarkan hukum sebab-akibat, logika linier, dan dialektika. Lah dimana kita bisa merasionalisasi jabatan menteri-menteri yg nggak sesuai dgn latar belakang kuliah atau ilmunya itu? Kuliah di Fakultas Pertanian kok kerja di bank...? kuliah di FKIP kok jadi makelar politik...? dsb. Saya berani memastikan bahwa lebih dari 75% orang2 Indonesia yg sekarang bekerja di suatu bidang pekerjaan tidak sesuai dgn latar belakang keilmuan yg dijalaninya sewaktu ia kuliah dulu...dan pasti 90% orang bekerja di bidang yg bukan ia cita-citakan secara sadar dan rasional. Semuanya bekerja karena 'kebetulan-kebetulan'. Jadi bupati kebetulan, jadi guru dan dosen kebetulan, jadi bisnisman kebetulan, jadi menteri kebetulan, jadi gubernur kebetulan, jadi penulis dan penyair kebetulan, jadi dukun kebetulan, jadi aktor teater kebetulan, jadi pejabat kebetulan, dll. Maka itu saya katakan: Kebetulan adalah bagian dari iman. Di Indonesia--kebetulan adalah keniscayaan dan kepastian. Engkau tak bisa berpegang pada kepastian dan rasionalitas. Engkau harus beriman pada kebetulan...hahaha...

Makanya, di republik atau di provinsi ini tidak dibutuhkan profesor2 dan doktor2 ilmu politik dan pemerintahan! Nggak laku mereka untuk jadi penentu kebijakan pembangunan di negeri kebetulan. Yg dibutuhkan ialah: kalau kamu 'kebetulan' punya bapak kaya raya, maka kamu bisa nekat nyalon jadi bupati atau gubernur...haha...

Karena itu kalian jangan mudah ge-er. Hidup dan kerja karena 'kebetulan' kok ngengkeng...mestinya ditanamkan dalam hati kita dalam-dalam, dgn tawadhu, bahwa kebetulan yg kualami ini pasti bukan kebetulan, jadi aku harus sungguh2 menjalani peran kebetulan ini, melakukan optimalisasi akting terhadap adegan yang 'kebetulan' ini, sehingga sikap dan hasilnya nanti gak 'kebetulan' baik dan bagus. Contoh salah seorang guruku (namanya sengaja kurahasiakan): dia niatnya mau bikin novel, eeh...kebetulan yg jadi buku puisi...hahaha untung puisinya keren2, jadi itu kebetulan yg keren juga namanya...hahahah..."

Aku, Subandi, Gurjep, Moh Stamper, dan Sutopo secara kebetulan manggut-manggut bareng.

"Dan kalian adalah contoh dan bukti kebetulan-kebetulan yg paling parah...hahaha..." Syekh Mukhlisn mingkel-meingkel ketawa sampe terguling2.

"Maksudnya, Syekh?"

"Kalian kan kebetulan aja jadi manusia, karena kalian sebetulnya beruk! hahaha...." kata Syekh Mukhlisin.

"Berarti Anda juga sebetulnya Beruk dong, Syekh, atau minimal Anda ini sebetulnya batu asahan....hahahahahuhuhihii..." Ujar Moh Stamper nekat.

Suasana menjadi hening seketika.