Perahu

Saturday, June 29, 2013 0 Comments A+ a-

Setelah hampir seminggu raib bak ditelan ikan, tiba-tiba tengah malam tadi Syekh Mukhlisin nongol ke kontrakan kami. kami yg saat itu sedang begadangan sambil maen kartu tentu saja terlonjak senang, karena hampir seminggu tanpa kehadiran beliau; cengangas-cengegesnya, tidur dan kentut seenak udelnya, sok bijak dan sok tahunya--meski kerap mengganggu, tapi juga bikin rindu.

Syekh Mukhlisin ujug-ujug duduk dan diam saja di hadapan kami. Rambut dan bajunya awut-awutan, badan dan wajahnya terlihat lecek, tapi sorot matanya--tetap saja penuh percaya diri (bahkan cenderung mengarah ke nggak tahu diri).

"dari mana aja, Syekh?" ujarku hati-hati, takut salah omong.

"Tujuh hari lalu aku didatangi Maulana Khidr as di empang belakang rumahku. Aku diberinya paku dan palu. Aku senang, tapi sekaligus juga kaget--untuk apa nih paku dan palu? Lantas, Beliau bilang: paku itu harus kau pakai untuk melubangi sampe bocor perahu-perahu yg nantinya dipakai oleh para cagub dan cawagub untuk membohongi rakyat. Perahu-perahu itu, ujar Maulana Khidr, adalah amanah sekaligus media yg seharusnya dipakai untuk menyampaikan keluh-kesah rakyat kecil ke dermaga kenyataan pembangunan yg adil dan penuh empati thp kesejahteraan ekonomi-sosial. Tp, kenyataan di sungai dan lautannya berbeda--perahu-perahu itu malah sering dipakai untuk mengangkut kepentingan partai mereka sendiri, kepentingan keluarga mereka sendiri, kepentingan syahwat perut dan ekonomi mereka sendiri. Dermaga mereka klaim sebagai milik privat dan bukannya untuk publik. Siapa-siapa yg nantinya akan masuk untuk menyebrang ke lain pulau, baik untuk berdagang atau sekedar untuk melihat-lihat pemandangan--harus setor duluan 20 % dari total keuntungan hasil dagang...

Jadi, para Cagub dan Cawagub itu kerjaannya cuma menyedot potensi dan hasil bumi coro-coro macam kayak kita ini, lalu mengangkutnya pakai perahu ke istana mereka yg ada di seberang dermaga. Karena itulah aku dikasih palu dan paku ini oleh Beliau...biar perahu-perahu itu tak disalah-gunakan..."

"Lantas, kok Anda terlihat lecek dan semerawut sekali, Syekh?" kata Sutopo.

"Karena sudah semingguan ini aku puasa dan ngewiridin paku ini pake Hizb Nashr sebayak 7777 kali agar ampuh dan bisa makbul untuk nyoblos dan nenggelemin perahu-perahu itu...Alhamdulillah tirakatku selesai. Tadi malam, perahu-perahu para Cagub-cawagub itu sudah sukses kulubangi. Jadi, kalau mereka nanti mendayungnya dgn niatan untuk tetap ngapusi dan nyurangi rakyat banyak, maka secara otomatis sirr dari Hizb, puasa, dan wirid yg kulantunkan berulang-ulang ke langit ini akan menghantam mereka secara telak dan otomatis. Mereka akan tenggelam dalam lautan kegelisahan dan rasa haus yang tak kunjung usai. Diri mereka akan tercerai-berai--seluruh anggota psikis dalam dirinya nggakkan kompak lagi selamanya. Mereka akan mengidap penyakit 'Forever Skizofrenia' yg akut--karena apa yg dikehendaki oleh hati nurani mereka bertentangan secara seketika dan terus menerus dgn naluri, pikiran, dan anggota tubuhnya. Apa yg dikehendaki dan diamini nalar mereka, nggak kunjung seiring sejalan dgn apa yg dikehendaki dan diamini syahwat, pikiran, dan panca indera mereka. Sebab itu sekarang aku bahagia...tugasku tunai...mudah2an kita, para coro dan tikus got dalam rumah mewah pembangunan ini agak sedikit aman. Insyaallah..." ujar Syekh Mukhlisin sambil menarik nafas panjang dan beristighfar berulang-ulang.

Tapi tiba-tiba Moh Stamper entah darimana masuk ke rumah, terengah-engah, dengan mata ketakutan kayak habis bertemu roh mantan presiden Soeharto. Secara serentak kami berdiri, melompat, dan memasang kuda-kuda. Syekh Mukhlisin salto dan mengambang di plafon...

"Celaka, Syekh, ...Celaka..." ujar Moh Stamper. "Tirakatmu sia-sia, Syekh. Para cagub dan cawagub itu urung memakai perahu-perahu itu untuk menyebrang ke dermaga. Mereka semua pakai ilmu baru, warisan Aladin katanya. Jadi mereka menyebrang tidak menggunakan perahu, tapi sejadah terbang yg bahannya dijahit dari lembar-lembar duit 50 & 100-ribuan....maaf, Syekh,...puasamu percuma..."

Udara seketika memadat. 

Ruang dan waktu berkumpul dalam satu hentakan-- "AAAkhhhhhhh!!!....." teriak Syekh Mukhlisin, lalu jatuh dari plafon kesurupan sebentar, dan pingsan.


*

Hasil Diagnosa dokter di RS Abdoel Moeloek tadi: 
Syekh Mukhlisin kena demam berdarah.