Ajang Miss World
Mulut kami menganga; Syekh Mukhlisin, memakai kacamata berwarna biru bulat ala John Lennon, jaket kulit lusuh dan pudar ala penyair lawas yg melapisi kaos merah bergambar (Alm) Nike Ardilla, bercelana jeans, anting di telinga kiri, sepatu pantofel warna putih ala bandit Palembang, rambut tersisir basah, dan jari hampir penuh diisi akik Yaman dan Badar Besi, menyalami kami satu-persatu dengan yakinnya. "Aku pamit permisi. Mohon doanya."
"Lho, mau kemana, Syekh?" ujarku.
"Ada aja."
"Jangan gitu dong...Mau kemana sich...?" kata Sutopo
"Mau tau aja atau mau tau bener...?"
"Ya mau tau bener lah!! Kalau bisa kami ikut sekalian.." jawab kami kompak.
"Ya nggak bisa! nggak seru kalu kalian ikutan..."
"Yo Wis, kami nggak ikut. kami cuma pengen tahu, Syekh mau kemana? kok
mendadak and gak pake rapat dulu dgn kami..." kataku lagi.
Hening
"Aku mau ke Bali."
"Wah seru dong!!" teriak Robert. "Syekh mau ikut membubarkan final miss world ya? Bakar Syekh! Bakaarrrrrr!!!"
"Ngapain aku ikut-ikutan ngebubarin acara miss world!! ya mau nonton
lah!! kalian gak usah ikut-ikutan goblok ya--masih banyak hal lain di
republik ini yg perlu didemon, dibubarkan, atau kalau perlu ditembak
mati sekalian ketimbang sekerumun cewek2 cantik nan seksi yg punya niat
baik untuk memberdayakan tubuhnya dan negaranya itu--yaitu para koruptor
dan bandit2 yg menghisap potensi finansial dan kultural bangsa ini.
Kalian gak usah ikut2an jadi kaum kebanyakan yg cuma bisa koar2 ceriwis
ngurusi hal-ihwal yg kecil dan sepele seperti konser lady gaga atau miss
world ini, tapi bengong dan cengangap aja melihat para bandit koruptor
melenggang masuk ke ruang tamu rumah2 kalian sambil menyerahkan
bingkisan...
...Masih mending kalian isi kepalamu itu dgn bokong
semlohoy para kontestan miss world itu, ketimbang kau isi kepalamu dgn
siasat2 untuk ngapusi rakyat dan bangsa. Karena kalau kepalamu isinya
cuma bokong, maka yg runyam ya cuma batin dan otakmu sendiri. Tapi kalau
isinya kepalamu itu siasat2 untuk ngapusi rakyat--mudharatnya kamu
bagi2 ke semua orang! Pahammm!!?" Semprot ludah Syekh Mukhlisin
berkobar-kobar.
"Pahamm!!," kami bareng menjawab.
"Apanya yg paham!?"
"Bahwa kami harus juga bertekad ikut ke Bali!" ujarku mantab.
"Bahwa kami harus mengisi kepala kami dengan bokong!" kata Bily.
Hening
Syekh Mukhlisin menatap jalan yg jauh di depan. Ada kabut yang mulai
turun dan melangkah pelan-pelan. "...bukan aku tak mencintaimu. tapi
diriku merasa malu. kau si raja kaya. aku raja sengsara. dunia kita,
selalu...," gumam Syekh Mukhlisin perlahan.

