“Kamu
Som-se!” ujar Syekh Mukhlisin tadi pagi di kontrakanku sambil mukanya
plengas-plengos gak keruan. “Kamu som-se, sombong sempurna, aku kontak
sudah semingguan ini, kok gak dijawab. Kemana aja kamu?”
“Aku di rumah aja, syekh. Kalau keluar paling banter latihan teater kok,” jawabku.
“Terus, kok teleponku kemarin gk kau jawab?”
“Oh, waktu itu aku lagi nge-sms pacarku, Syekh.”
“Emailku sejak minggu kemarin, juga gak kau respon?”
“Oh...belum sempet kubuka inbox-nya Ya Syekh, aku ke Mesuji, lagi ada proyek pengadaan komputer.”
“ Aku juga kirim surat, kok gak kau bales-bales?”
“Wah, mungkin belum nyampe suratnya Syekh. Tp, memang aku kan sedang ada di luar rumah?”
“BB-mu gak aktif?”
“Nggak, aku lagi banyak rapat Syekh.”
“Terus, td malam kemana? Aku kan datang ke mimpi-mimpimu tp kamu ga
nyambut aku? Padahal aku terpaksa meditasi seharian biar bisa masuk dan
menjumpaimu ke alam mimpimu, kok kamu tetep gak ada?”
“Oh, memng dari td malam sampe sekarang aku belum sempet tidur, Syekh, jd memang aku belum mimpi seharian ini...” kataku.
“Wah! Itulah! Sombong sekali kamu! Katanya kita berteman, tp selalu
enggan kau mendengarkan tegur-sapaku. Katanya kita sehati, tapi kau
selalu sibuk dgn pikiran2mu sendiri! Boro-boro kau mau menghampiri dan
mengunjungiku, mendengarkan aku pun kau tak mau!"
"Maaf Syekh..." kataku.
"Inilah kamu ini--maunya cuma berbicara, tp gk mau mendengarkan! Kamu
selalu sok sibuk dgn pikiran dan perasaanmu sendiri sich. Terus nanti
kalau kamu kepepet, proyek lg seret, jodoh gak kunjung dapet, jabatan
banyak yg ngusilin, nglamar kerjaan sana nglamar kerjaan sin mentok,
pacarmu selingkuh, di rumah ribut cekcok terus, hati galau terus, ada
sanak saudara yg sakit, bingung nentuin pilihan hati, kok gak
eksis-eksis, dan lain sebagainya--baru kamu ngajakin aku berdoa ama
tuhan, baru kamu maksain tuhan supaya menggunakan asmanya yg Maha
Mendengarkan itu untuk mendengarkan ocehanmu, curhatmu. Kamu anggap
tuhan itu psikiater atau tempat sampah apa? yg cuma boleh diam dalam
posisi menyimak dan mendengarkan, tapi suara-Nya nggak mau kamu
dengar...?!
Lantas kalau doa2mu kau anggap macet, proposal
harapan dan cita2mu belum selesai di proses di Arasy, kamu protes! lalu
nganggap bahwa tuhan gak fair karena nggak mau merespon kecerewetan
doa2mu. Padahal Dia setiap saat menyapamu, berbicara padamu, merespon
nyanyian dukamu, tapi kupingmu aja yg budeg!
Gimana kamu akan
mampu mendengarkan suara yg maha Indah dan Maha Halus dan Merdu itu
kalau setiap detik di otak dan batinmu kau sibuk berbicara, ngoceh,
mainin HP terus, BBM-an terus, nge-sms terus, facebook-an terus,
mengumpat terus, berprasangka terus, khawatir terus selama 24 jam dalam
sehari...
Coba sekali-kali kau duduk hening. Diam. Biarkan
pikiranmu bergerak, namun kau hanya menyaksikan kelebatan sibuk
pikiran-pikiranmu itu...Biarkan perasaanmu bergolak, namun kau tak
terlibat dalam gebalaunya itu. Hening. Diam....Tenangkan otak dan
batinmu...Jangan berbicara, jangan menilai...hanya
mendengarkan...Setelah itu barulah kau akan mampu mendengarkan
suara-Nya...jangan bergerak, baru kau akan menyimak detak langkah-Nya...
Diam...Hening...Hanya mendengarkan...Dengarkan....hanya
mendengarkan..." Ujar Syekh Mukhlisin menasehatiku sangat khusuk.
"Paham...?" katanya.
Tuuliluluit....! Tulilululit....!
Rriiiiiinnggg...!! rupanya HPku berbunyi. "Wah, Maaf Syekh, aku cabut
dulu nih. Dipanggil teman, ada rapat untuk survey pilkada. Biasa
Syekh...argo bawah.." Kataku sambil bergegas cabut.
*
Syekh Mukhlisin termenung sendirian.
Di matanya--ada padang sabana yg luas terbentang.
Ia menarik nafas panjang,
amat perlahan...