Munajat Syekh Mukhlisin

Thursday, May 30, 2013 0 Comments A+ a-


"Tuhan, coba sekali-sekali, kau atur agar masa depan yg sibuk mikirin aku, 
bukan aku yg mikirin dia.



Aku mau rileks aja, Tuhan. Kalau dipikirin terus, nanti si masa depan 
jadi sombong, besar kepala, merasa dibutuhin, merasa perlu disamperin 
dgn pendekatan khusus, dengan kalkulasi khusus--



karena dia lah aku jd ngotot, ingin memasti-mastikan segala sesuatu.
Terhadap kawan aja, aku jd males senyum
Takut masa depanku kabur, diserobot kawan


Aku salat, tapi yg ada di kepala dan hatiku cuma rencana2ku
untuk mendekatinya, bukan Kamu. Aku berdoa, cuma untuk
menyampaikan kegelisahanku, kekhawatiranku,
dan bukan menyanyikan suka-cita untuk-MU.

Kubilang aku mencintaiMu, padahal, sungguh Tuhan, aku sungguh-sungguh
hanya mencintai diriku sendiri.


Aku jd heran sendiri, Kok niatnya mau bahagia, aku jd gak bahagia?
Berhadapan dgn masa depan, Tuhan, aku jd salah tingkah!

kalau sekali-kali aku salah, kan boleh aja dong!
kalau sekali-kali aku terlihat bodoh, kan boleh dong!
kalau tiba-tiba aku kalah, nggak bisa nentuin pilihan, nggak pasti,
kan boleh aja dong?
masak aku harus terlihat pintar terus? Menang terus? Pasti terus?


Jadi, tolonglah, Tuhan, Dikaulah yg menciptakan mahluk yg maha abstrak
dan nggak pasti itu, 
Bilang padanya--gua nggak takut!"



Silaturahmi

Monday, May 27, 2013 0 Comments A+ a-

“Kamu Som-se!” ujar Syekh Mukhlisin tadi pagi di kontrakanku sambil mukanya plengas-plengos gak keruan. “Kamu som-se, sombong sempurna, aku kontak sudah semingguan ini, kok gak dijawab. Kemana aja kamu?”


“Aku di rumah aja, syekh. Kalau keluar paling banter latihan teater kok,” jawabku.

“Terus, kok teleponku kemarin gk kau jawab?”

“Oh, waktu itu aku lagi nge-sms pacarku, Syekh.”

“Emailku sejak minggu kemarin, juga gak kau respon?”

“Oh...belum sempet kubuka inbox-nya Ya Syekh, aku ke Mesuji, lagi ada proyek pengadaan komputer.”

“ Aku juga kirim surat, kok gak kau bales-bales?”

“Wah, mungkin belum nyampe suratnya Syekh. Tp, memang aku kan sedang ada di luar rumah?”

“BB-mu gak aktif?”

“Nggak, aku lagi banyak rapat Syekh.”

“Terus, td malam kemana? Aku kan datang ke mimpi-mimpimu tp kamu ga nyambut aku? Padahal aku terpaksa meditasi seharian biar bisa masuk dan menjumpaimu ke alam mimpimu, kok kamu tetep gak ada?”

“Oh, memng dari td malam sampe sekarang aku belum sempet tidur, Syekh, jd memang aku belum mimpi seharian ini...” kataku.



“Wah! Itulah! Sombong sekali kamu! Katanya kita berteman, tp selalu enggan kau mendengarkan tegur-sapaku. Katanya kita sehati, tapi kau selalu sibuk dgn pikiran2mu sendiri! Boro-boro kau mau menghampiri dan mengunjungiku, mendengarkan aku pun kau tak mau!"

"Maaf Syekh..." kataku.


"Inilah kamu ini--maunya cuma berbicara, tp gk mau mendengarkan! Kamu selalu sok sibuk dgn pikiran dan perasaanmu sendiri sich. Terus nanti kalau kamu kepepet, proyek lg seret, jodoh gak kunjung dapet, jabatan banyak yg ngusilin, nglamar kerjaan sana nglamar kerjaan sin mentok, pacarmu selingkuh, di rumah ribut cekcok terus, hati galau terus, ada sanak saudara yg sakit, bingung nentuin pilihan hati, kok gak eksis-eksis, dan lain sebagainya--baru kamu ngajakin aku berdoa ama tuhan, baru kamu maksain tuhan supaya menggunakan asmanya yg Maha Mendengarkan itu untuk mendengarkan ocehanmu, curhatmu. Kamu anggap tuhan itu psikiater atau tempat sampah apa? yg cuma boleh diam dalam posisi menyimak dan mendengarkan, tapi suara-Nya nggak mau kamu dengar...?!

Lantas kalau doa2mu kau anggap macet, proposal harapan dan cita2mu belum selesai di proses di Arasy, kamu protes! lalu nganggap bahwa tuhan gak fair karena nggak mau merespon kecerewetan doa2mu. Padahal Dia setiap saat menyapamu, berbicara padamu, merespon nyanyian dukamu, tapi kupingmu aja yg budeg!

Gimana kamu akan mampu mendengarkan suara yg maha Indah dan Maha Halus dan Merdu itu kalau setiap detik di otak dan batinmu kau sibuk berbicara, ngoceh, mainin HP terus, BBM-an terus, nge-sms terus, facebook-an terus, mengumpat terus, berprasangka terus, khawatir terus selama 24 jam dalam sehari...

Coba sekali-kali kau duduk hening. Diam. Biarkan pikiranmu bergerak, namun kau hanya menyaksikan kelebatan sibuk pikiran-pikiranmu itu...Biarkan perasaanmu bergolak, namun kau tak terlibat dalam gebalaunya itu. Hening. Diam....Tenangkan otak dan batinmu...Jangan berbicara, jangan menilai...hanya mendengarkan...Setelah itu barulah kau akan mampu mendengarkan suara-Nya...jangan bergerak, baru kau akan menyimak detak langkah-Nya...

Diam...Hening...Hanya mendengarkan...Dengarkan....hanya mendengarkan..." Ujar Syekh Mukhlisin menasehatiku sangat khusuk. "Paham...?" katanya.

Tuuliluluit....! Tulilululit....! Rriiiiiinnggg...!! rupanya HPku berbunyi. "Wah, Maaf Syekh, aku cabut dulu nih. Dipanggil teman, ada rapat untuk survey pilkada. Biasa Syekh...argo bawah.." Kataku sambil bergegas cabut.


*

Syekh Mukhlisin termenung sendirian. 
Di matanya--ada padang sabana yg luas terbentang.
Ia menarik nafas panjang,

amat perlahan...

Tafsir yg menurut prasangka

Monday, May 27, 2013 0 Comments A+ a-

Bakda salat dhuhur td kuperhatikan Syekh Mukhlisin banyak diamnya. Biasanya, seusai mewirid, dia pasti cengar-cengir sok bahagia, duduk anteng di halaman belakang, kemudian mengeluarkan sebatang dji sam soe, lalu menghisapnya dgn khusuk dan dalam bak juragan jengkol habis dapet setoran. Tp, tadi, ia tak melakukan ritual rutinnya itu. Aku sich diam saja tak berani menegur. Ada sekitar 5 menit kami dikepung keheningan, tiba-tiba, barulah ia bicara--

"kamu itu tentu sadar sesadar-sadarnya kan, bahwa tentulah tak semua buku sudah kau baca, tak semua film pernah kau tonton, tak semua pengalaman fisik pernah kau alami, tak semua bentuk perasaan pernah kau rasakan; patah hati, ditinggal istri atau kekasih, dicaci-maki penagih hutang, ditolak perempuan berulang-ulang, kecewa dgn masa lalu dan masa depan, diejek karena dicopot jabatan, dikhianati teman, dsb. Iya kan? demikian juga dgn rasa ragam bahagia...apa smua bentuk kebahagiaan pernah kau mengalaminya? kan belum tentu...

Kamu tentu waras sewaras-warasnya, bahwa tentulah tak semua pengalaman spiritual pernah kau menjalani dan memahaminya kan? apa memang benar2 kau baca dan paham aturan fiqh 4 imam mahzab dalam ahlul sunnah? apa memang pernah kau baca dan coba memahami aturan fiqh dan teologi kaum syiah? apa memang semua bentuk wirid, aurad, hizb2, dan doa2 dari para penghulu macam2 tarekat; Syadziliayah, Qadiriah, sammaniyah, Rifaiyah, Tijaniah, Rock 'n Rolliyah, dll pernah kau amalkan dan kau mendapat pengalaman batin, buah dari pengamalan itu? Apa memang kau hafal sekian ribu ayat yg ada di alquran berikut macam tafsirnya? kan belum tentu! Apa memang sdh kau baca tafsirnya Hamka, tafsirnya Sayid Qutb, Tafsirnya Ibn Katsir, Tafsirnya Pak Shihab, Tafsirnya Pak Maragghi, dll sehingga kau bisa membanding-tafsirkan makna suatu ayat dgn bijak dan dewasa? kan belum tentu! Apa kau pernah mencoba, walaupun sebentar dan penuh rasa deg-degan mencoba berdoa di lengang surau, gereja, vihara, atau pura? kan blm tentu pernah...

Kawan, bahkan untuk sebilah kalimat yg berbunyi, "Aku mencintaimu" pun kita gak boleh buru-buru memberi tafsir yg menurut prasangka kita adalah tafsir yg mutlak kebenarannya! Kalimat yg jutaan kali pernah diucapkan manusia di muka bumi itu tetap harus kita tafisrkan dgn terlebih dahulu melihat; -- siapa yg mengucapkannya? apa latar belakang ideologis, strata pendidikan, agama, dan background ekonomi si pengucapnya? kemudian kita harus tahu--pada konteks apa kalimat itu muncul? Bagaimana kondisi sosiologis dan politis masyarakat sehingga kalimat itu muncul pada ruang tertentu dan tidak di ruang yg lain? pada siapa kalimat itu diucapkan--pacarnyakah, istri atau suaminyakah, anaknyakah, teman tapi mesranyakah, selingkuhannyakah, tuhankah, atau trenggiling kah,? Kemudian, agar menjadi lebih sahih dan komprehensif, tentulah kita harus mencari rujukan-rujukan historis dan filosofis yg mendasari ucapan tersebut--secara fenomenologiskah, secara eksistensialiskah, heurmeneutika kah dll. Tentulah ucapan yg sama yg keluar dari aktivis feminisme akan berbeda sekali maknanya dgn ucapan yg keluar dari mulut pengikut aliran Ahmadiyah, pragmatisme, apalagi pengikut filsafat atomisme logisnya Moore dan Rusell atau Wittgenstein...Lalu bagaimana blocking dan bentuk adegan ketika ia diucapkan--menggunakan realisme dan kewajaran ala-Stanislavski kah? atau menggunakan efek pengasingannya-Brecht? Apakah ucapan itu diucapkan dgn kemurnian impuls si pengucapnya seperti aktornya Grotowski? atau malah memakai pola statis-presisif ala Robert Wilson?

lalu, agar menjadi lebih komplit, tentulah kita juga harus bertanya dan mencari, apakah kalimat "Aku Mencintaimu" itu mempunyai jaringan intertekstual dgn kalimat-kalimat lain yg pernah diucapkan oleh sepasang kekasih dlm novel atau puisi2 tertentu, misalnya. Kita juga harus melacak Hipogram dari kalimat itu; karena tentulah kalimat itu tidak orisinal dan baru pertama kali diucapkan. Kita juga harus melacak makna semiotik-nya, skemata-nya, surface structur dan deep structure-nya, akibat ekonomi dan finansialnya...Kita jg harus melacak--keadaan suasana hati org yg mengucapkan dan org yg mendengarnya? Apakah ucapan itu muncul dari Id-nya?, Ego-nya?, atu sekedar menuruti rutinitas Superego-nya? Atau jgn2 kalimat itu memang sdh ada sebelum sipengucap sendiri mengucapkannya; kalimat yg memang sudah tersimpan dalam arketipe, akhasic, dan lauh-al mahfudz setiap peradaban di semesta?...

Kawan, untuk menafsir secara lengkap satu kalimat itu saja, barangkali kita memerlukan ribuan halaman untuk menganalisanya, apalagi untuk menafsir ayat-ayat tuhan yg tersimpan dalam kitab-kitab-Nya dan tersebar di setiap ihwal di alam semesta ini! itu baru soal agama...belum lagi soal estetika, puisi, bentuk teater, ekonomi makro-mikro, hubungan politik, epistemologi dan aksiologi ilmu, trend pemasaran, jenis-jenis jiwa, model kekuasaan, akar dan perubahan kultural, dampak sosiologis, sistem pembelajaran, dan lain sebagainya...

Jadi, kawanku, kamu gak usah selalu ngotot lah bahwa pendapatmu yg paling benar. Kalaupun benar--itu harus disadari sebagai kebenaran yg terikat oleh latar konteks dan waktu tertentu, tidak menyeluruh dan selamanya. Kamu memang harus belajar 'benar' dan mengatakan 'yg benar', tp kamu jgn sekali-kali meniadakan 'kebenaran-kebenaran' milik yg lain yg juga mungkin sama benarnya. Kebenaranmu dan aku adalah kebenaran yg parsial! Kebenaran yg tak mungkin mampu menjangkau dan merengkuh keluasan seluruh ilmu pengetahuan. Jd, jangan ngotot, jgn membakar, jangan memaki, jgn sok sensitif dgn menggunakan isu-isu agama dan sara ...rileeeks...ok! Paham kan?

"Tapi Syekh......" Kataku coba me....

"Kampang Kamu!!"

Aku langsung ngacir.

Topeng

Sunday, May 19, 2013 0 Comments A+ a-

Entah kesambet apa, td malam tiba-tiba Syekh Mukhlisin maeraupkan tangannya yg kasar ke wajahku; ditarik-tariknya dgn kuat pipi, hidung, bulu mata, kuping, dan bibir di wajahku yg emang amat sangat sederhana. "Lepaskan! lepaskan!," hardiknya.

"Aguuyy...! apa yg harus dilepas, Syekh!?" kataku kesakitan.

"Itu...topeng di mukamu!! topeng hakim, topeng guru, topeng penyair, topeng walikota, topeng aktivis, topeng rektor, topeng kyai, topeng wartawan, topeng motivator, topeng spiritualis, topeng dosen, topeng cerpenis, topeng kontraktor, topeng sok polos dan sok lugu, topeng sok bijak sok paling ngerti org lain, topeng mahasiswa, topeng dakwah, topeng sok rebel, topeng sok tahu, topeng badak topeng luwak topeng monyet! lepasin!! itu bukan kamu!!" kata Syekh Mukhlisin histeris.

"Tapi ini asli, guru!"

"Palsu...! itu bukan kamu. itu peran yg kebetulan dan kadang-kadang aja kamu perlukan untuk kau pakai dan mainkan. Jgn ngotot kalau itu asli dan harus kau pertahankan 24 jam sehari...terus-menerus...sampai kau mati! nti yg masuk sorga topengmu dan bukan kamu, baru nyesel kamu! ujar Syekh lebih histeris lagi.

"Terus yg asli yg mana dong, Bos!!!?" tantangku mulai marah, kerna mukaku terus aja ditarik-tariknya.

"Yang ini...Plakk..!!" katanya sambil melayangkan tapak tangannya keras-keras ke muka kampunganku..


Tak sampai 2 detik, aku sepertinya tak ingat apa-apa...

Tak sampai 1 detik, topeng di wajahku sepertinya sempat terlepas entah kemana...


Di waktu yg tak sampai 1 detik itu...aku merasa begitu bahagia.

Entah mengapa.