Penampakan

Friday, February 05, 2016 0 Comments A+ a-


Syekh Mukhlisin berceloteh:
"saat ini telah berlangsung pergeseran paradigma yang lumayan norak dan ekstrem, mulai dari soal epistemologi sampai ke soal nilai guna dan fungsi serta cara memandang dan menjalani kehidupan. Pada jaman Kangouw dan era baheula dahulu yang amat diminati untuk dipelajari dan dimanfaatkan adalah Ilmu Menghilang, maka aji-aji untuk untuk lolos dari kepungan lawan dan untuk masuk secara aman ke kamar banyak diproduksi--dengan pendekar Ninja sebagai contoh kongkrit dan ideal. namun sekarang sebaliknya, Ilmu Menghilang jadi tak relevan. Yang amat diminati untuk dipelajari dan dipraktikkan adalah Ilmu Penampakan."
"Aku kurang nyambung, Syekh" ujar Sutopo. Sedangkan Moh Stamper, Budi, dan Subandi manggut2 dan menraik nafas dalam-dalam.
"Maksudnya sekarang orang2 sudah malas menghilang, mereka banyak mengamalkan Ilmu Penampakan atau IlmuTampak; tampak ulama, tampak sufi, tampaknya guru atau dosen, tampaknya seniman, tampak penyair, tampak ngerti teater, tampak intelektual, tampaknya politisi dan negarawan, tampak bijaksana dan penuh cinta, tampak ngurusin rakyat, tampak peduli dengan kebudayaan lokal dan tradisional, tampak ber-teman, tampak sangar dan militan, tampak sudah kenal tuhan sekaligus tampak nyari tuhan, tampak kaya, tampak wartawan, tampak dermawan, dan lain-lain-- yang kesemuanya bisa kita lanjutkan dengan kata: padahal...."
"Paham.....!" ujar Sutopo, Moh Stamper, dan Subandi serentak.
"Sekarang menurut kalian, aku sedang mengamalkan ilmu apa. Ilmu Menghilang atau Ilmu Tampak?"
"Keduanya, Syekh!" kata Moh Stamper semangat.
"Maksudnya?"
"Syekh adalah Ninja--yang tampak tua dan bloon!" ujar Stamper, Sutopo, dan Subandi kompak.

Bikin Sumur

Wednesday, February 03, 2016 0 Comments A+ a-

 

Sudah setengah harian Syekh Mukhlisin nyolok-nyolokin tanah pake paku, di halaman depan, terus pindah ke samping rumah, terus pindah lagi ke halaman belakang, terus pindah ke halaman tetangga, lalu pindah lagi, pindah lagi, terus seperti itu sampai hampir menjelang maghrib. Tak tahan melihat kelakuan sahabatnya itu, Moh Stamper bertanya, "Emang lagi ngapain sih, Syekh?"
"Bikin sumur. Nyari Air," ujar Syekh Mukhlisin, meski terlihat lelah tapi tetap berusaha kalem.
"Hahahaha...Ya nggak mungkin lah! Aneh...mau bikin sumur kok pake paku. mau nyari air kok pindah-pindah lokasinya, terus menggalinya cuma beberapa sentimeter lagi. Hati-hati, Syekh, nanti kecetit tuh otaknya. Kesambet dan ngawur permanen," ujar Moh Stamper, prihatin.
"Kamu yang kesambet!! Kamu yang kecetit otaknya! Kamu yang ngawur permanen! kamu yang ngobloknya kekal! aku kan lagi ngasih analogi. Perumpamaan. Kiasan. Untukmu dan kawan2mu itu, yang sok2an nyari sumber, tapi selalu pindah minat, pindah guru, pindah metode, pindah aliran, pindah kelompok, selalu ngerasa nggak cocok, nggak pas, nggak sesuai dengan hatimu, pikiranmu, dll."
"Ouh...Oh...Gitu, ya Syekh, maafin kekhilafan ana ya..," kata Moh Stamper mendadak pucat.
"Minggat dan merenung sana! ntar kepalamu yang kucolok2 pake paku ini baru tahu rasa kau. Babuy kamu!"