Jihad ke Irak
Kemarin maghrib Syekh Mukhlisin marah sekaligus galau berat. Di
hadapannya duduk Sutopo, Moh Stamper, dan Subandi yang pamitan mau
hijrah ke Irak-- gabung ke Isis untuk jihad katanya. Mereka menggunakan
kafiyeh ala Yaser Arafat, berkaos merah bergambar Ernesto Guevara, dan
menenteng samurai kecil produksi Cisaat, Sukabumi. Mereka sowan ke Syekh
Mukhlisin untuk menghormatinya sebagai senior, minta doa-doa
perlindungan--dan kalau ada--tambahan ongkos dan sangu.
Malam dan dingin terasa memberat. Mata dan muka Sutopo, Moh Stamper, dan
Subandi sama dingin dan beratnya. Setelah menarik nafas panjang dalam
15 kali hitungan, Syekh Mukhlisin berujar:
"Saya tak melarang kepergian kalian, sekaligus juga tak merestui. Karena
saya tak merestui, maka otomatis tak mungkin saya memberi tambahan
ongkos dan sangu u kalian. Saya hanya akan memberi sangu doa. Itu pun
bukan doa2 perlindungan, tapi doa supaya dada kalian lapang serta otak
dan hati kalian bening u mengkaji persoalan niat jihad kalian yg sudah
mengarah ke keblinger ini."
Tubuh Sutopo, Moh Stamper, dan Subandi diselimuti kabut merah yang tipis. Mata mereka setajam silet.
"Kalau kalian goblok total dan kalian belajar sungguh-sungguh biar
pintar--itu jihad namanya. kalau kalian miskin atau dimiskinkan dan
kalian berusaha sungguh-sungguh mencari rejeki yang halal biar kehidupan
ekonomimu membaik--itu jihad namanya. kalau kehidupan rumah tanggamu
atau keluargamu berantakan dan kalian sungguh-sungguh berikhtiar untuk
mencari solusi biar kembali tentram dan akur--itu jihad namanya. Kalau
di tempatmu pejabat-pejabatnya, penguasa-penguasanya pada korup dan
lalim lalu kalian bersungguh-sungguh dan istiqomah mengkritik,
mengawasi, dan menawarkan solusi-solusi yang konstruktif--itu jihad
namanya.
Kalau kamu nganggur sehingga mukamu merengut terus setiap hari dan kamu
berusaha sungguh-sungguh cari pekerjaan halal--itu jihad namanya. kalau
di negerimu banyak korupsinya dan kamu sungguh2 mencegahnya, membatasi
ruang geraknya, membuat kapok pelakunya--itu juga jihad namanya.
-- Sebab 'jihad' itu artinya kamu berupaya mati-matian,
bersungguh-sungguh, bekerja total dan habis-habisan menggunakan segenap
potensi kemanusiaanmu--fisikmu, hatimu, dan kepalamu--untuk
memperjuangkan sesuatu, untuk mencapai sesuatu! Paham?"
"Tapi kami ingin perang Syekh. Itulah pengertian jihad yang sebenarnya menurut kami," kata Moh Stamper.
"Yang pertama--kata siapa jihad itu hanya berarti perang!--itu pun
kalian sempitkan artinya hanya menjadi perang dalam pengertian
tembak-tembakan, adu otot, dan bacok-membacok!! berarti setiap bandit
dan preman yang gawenya duel itu jihad dong!," Mulut Syekh Mukhlisin
mulai mengeluarkan api.
"Emangnya kalu kamu miskin dan goblok dan kamu berupaya sungguh-sungguh
biar kagak miskin dan goblok lagi itu bukannya perang! emangnya kalau
rumah tangga dan keluargamu berantakan dan kamu habis-habisan
memperbaikinya itu bukannya perang! emangnya kalu kamu bikin sekolah yg
reot dan bikin perpustakaan kecil2an di tengah kacaunya dan cueknya
pemerintah mengelola pendidikan itu bukannya perang! emangnya kalu kamu
mengadvokasi rakyat yang ditindas dan dizalimi pemerintahnya sendiri itu
bukannya perang! emangnya kalau kamu menyebarkan kesadaran untuk tidak
korupsi itu bukannya perang! dan banyak lagi bentuk perang yg laennya!
emangnya perang itu cuma harus terjadi dalam ranah politik, secara
fisik? emangnya kamu gak bisa apa melakukan perang ekonomi, sosiologis,
kultural, --dan yang paling dasar--pemikiran, pendidikan!! jangan sok
tahu kamu, Moh Stamper!!"
Kabut merah yang menyelubungi badan Sutopo, Moh Stamper, dan Subandi mulai menipis. Mereka mendadak menggigil.
"Segala sesuatu, wahai Bro-ku sekalian, dikalkulasi dalam skala
prioritas, orientasi ruang dan waktu. Pertimbangan, pilihan, dan
tindakanmu untuk berperang di bidang apa, di mana, dan kapan waktunya
bergantung pada ketiga hal tsb. Jadi niatan kalian untuk ke Irak
sekarang ini dan maen tembak-tembakan itu lahir dari kurang akuratnya
kalian membaca kondisi dan prioritas dirimu sendiri, kurang akuratnya
kalian membaca dan menempatkan problem di masyarakatmu sendiri sekarang
ini.
"memang jihad yg tertinggi adalah perang menegakkan agama allah--tapi
ini kompleks dan harus jernih sekali kalkulasinya. Seminimal-minimalnya
jihad yg bisa kau lakukan adalah penolakan hatimu, penolakan pikiranmu
terhadap segala bentuk kemungkaran. Setiap kalian merasa tidak puas
terhadap apa-apa yg lemah dan kurang lalu kalian berusaha
sungguh-sungguh memperbaikinya--maka itu lah jihad.
"Karena itu, lihatlah apa yang lemah dan kurang dalam dirimu,
keluargamu, masyarakatmu, dan negaramu--lalu perbaikilah! Kalau kalian
sadari hal ini--maka sesunguhnya kita melakukan jihad setiap saat;
sesuai kebutuhan, prioritas, perhitungan ruang dan waktu kita
masing-masing! sekarang kalian pulang, gak usah sok-sok-an mau ke Irak
segala. Ntar gua kelitikin satu-satu, baru tahu rasa kalian!!" bentak
Syekh Mukhlisin.
Sutopo, Moh Stamper, dan Subandi menunduk dan menarik napas dalam-dalam.
"Berarti Syekh sendiri saat ini sedang berjihad juga dong...kalau boleh
tahu, Jihad apa yang sedang Anda lakukan saat ini, duhai Syekh?" kata
Subandi pelan-pelan.
"Cari bini."
Subandi, Sutopo, dan Moh Stamper mendadak tak bernapas lagi.

