Definisi Cinta
Sore hari, di halaman samping rumah kontrakan, tiga mahluk yang mengaku manusia, Mas Wir, Gemblung, dan Topo, duduk bersebelahan, diam.
"Kok pada diam? lagi kesambet bareng ya?" kata Syekh Mukhlisin tiba-tiba nongol, cengangas-cenge
"Enak aja, lagi merenung kami ini, Syekh!" kata Topo.
"Mantab. soal apa? harga elpiji?"
"bukan," kata Gemblung.
"Oh, mesti soal kebudayaan lokal?"
"Nggak," kata Mas Wir.
"Terus soal apa dong?"
"Santi," kata Topo.
"Endang," kata Mas Wir.
"Donna," kata Gemblung.
"Jadi...maksud kalian merenung tadi itu, kalian ini sedang mikirin cinta ya...?"
"Yoi....," jawab Topo, Gemblung, dan mas Wir Serempak.
"Cuaaah!...Guob
"Jangan asal komentar dong Syekh! kalu nggak ngerti nggak usah ngomong sembarangan gitu dong!," jawab Gemblung nekad.
"Siapa yang kau anggap nggak ngerti?! aku?," kata Syekh mukhlisin sambil mencet hidung Gemblung kuat-kuat.
Seketika Gemblung kesurupan.
"Justru karena aku sangat ngerti makanya aku ngomong kayak gitu. kalian tahu berapa puluh kali dalam hidupku aku harus jatuh cinta kemudian patah hati atau ditolak karena salah menempatkan 'kerja pikiranku' di ruang di mana seharusnya hati atau qolbumu yang bertindak. jatuh cinta kok dikalkulasi-kal
"Jadi kami harus bagaimana nih...?"
" ya nggak gimana gimana. jatuh cinta aja. lenyapkan dirimu di lautan cinta. nggak usah takut tenggelam dan karena itu kalian sibuk menyiapkan training agar selamat dari ketenggelaman. kau memang harus hilang, tenggelam. kau memang harus goblok dan jangan sok pintar. kau memang harus miskin-papa di hadapan cinta, jangan berlagak kaya. kau jangan menyiapkan strategi, karena itu berarti kau mendudukkan cinta di bawah pikiranmu--yg sok tahu dan merupakan buah dari kondisioning, bacaan, keluarga, teman, otot dan postur tubuh, roman wajah, trauma-trauma, harapan-harapan
Mas Wir dan Topo menarik nafas. Menghirup prana.
"paham kalian?" kata Syekh.
"Eeeeee....tapi
"Kampang kamu!," kata Syekh Mukhlisin. lalu menghilang.

